Menkeu Jamin Defisit APBN Aman, Benarkah Tanpa Risiko?
📅 Selasa, 31 Mar 2026, 22:50 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Menjaga defisit APBN tetap terkendali merupakan kunci menjaga stabilitas makroekonomi dan kredibilitas fiskal.
Defisit yang terjaga memberi ruang bagi pemerintah untuk mengelola utang secara berkelanjutan, menekan biaya pembiayaan, serta mempertahankan kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.
Sebaliknya, defisit yang melebar tanpa kontrol berisiko meningkatkan beban bunga utang dan mempersempit ruang belanja produktif di masa depan.
Karena itu, disiplin fiskal perlu diimbangi dengan kualitas belanja yang tepat sasaran, agar setiap rupiah yang dikeluarkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga kesehatan anggaran negara.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjamin defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap terkendali hingga akhir tahun.
Sebaiknya Anda baca juga:
Purbaya dalam konferensi pers yang dipantau secara daring di Jakarta, Selasa (31/3), mengatakan pengelolaan anggaran terus dijaga berkesinambungan, sehingga APBN tetap mempunyai ruang untuk memberi bantalan terhadap gejolak perekonomian dunia.
“Hitungan kita sekarang 100 dolar AS rata-rata sampai akhir tahun pun, anggaran kita tetap berkesinambungan dan defisitnya masih terkendali,” ujar Purbaya.
Oleh sebab itu, dia meminta masyarakat tidak perlu khawatir terhadap potensi pelebaran defisit APBN.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Jadi, masyarakat tidak perlu khawatir defisitnya tidak terkendali dan anggaran morat-marit. Kami kendalikan dengan baik semuanya dan sudah hitung sampai dengan akhir tahun,” kata Purbaya.
Sebelumnya, pemerintah memaparkan sejumlah skenario dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap APBN.
Pada skenario pertama, harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) diperkirakan berada di kisaran 86 dolar AS per barel, dengan nilai tukar rupiah sekitar Rp17.000 per dolar AS, lebih lemah dari asumsi APBN sebesar Rp16.500 per dolar AS.
Dengan pertumbuhan ekonomi 5,3 persen dan imbal hasil surat berharga negara sekitar 6,8 persen, defisit APBN diperkirakan mencapai 3,18 persen.
Dalam skenario moderat, harga minyak diproyeksikan sekitar 97 dolar AS per barel dengan nilai tukar rupiah melemah ke Rp17.300 per dolar AS.
Pertumbuhan ekonomi diperkirakan 5,2 persen dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) 7,2 persen, sehingga defisit berpotensi meningkat menjadi 3,53 persen.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (2)
01 Apr 2026, 08:21 WIB.
Komentar dihapus otomatis karena terindikasi sebagai spam
Balas01 Apr 2026, 08:23 WIB.
Komentar dihapus otomatis karena terindikasi sebagai spam
BalasSilakan login via Google untuk dapat memberi komentar!