Kontroversi Piala Afrika: Maroko Anggap Kasus AFCON Selesai, Senegal Masih Menggugat
📅 Minggu, 29 Mar 2026, 02:00 WIB | Oleh: Benny Mudesta PutraMADRID, SPANYOL — Kontroversi seputar final Africa Cup of Nations (Piala Afrika) belum sepenuhnya mereda. Senegal masih menggenggam trofi dan mengajukan gugatan hukum, namun bagi Moroko, perkara tersebut sudah dianggap tuntas.
Meski kalah 0-1 dalam final yang digelar Januari lalu, Maroko kemudian dinyatakan menang 3-0 oleh Confederation of African Football. Keputusan itu diambil setelah sejumlah pemain Senegal meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes atas hadiah penalti untuk Maroko.
Dalam laga uji coba melawan Ekuador di Madrid, Jumat, Maroko bermain imbang 1-1, pertandingan pertama mereka sejak keputusan kontroversial tersebut diumumkan. Laga itu juga menjadi debut pelatih baru Mohamed Ouahbi, hanya tiga bulan menjelang FIFA World Cup 2026.
Kiper utama Maroko, Yassine Bounou, menegaskan timnya tidak ingin larut dalam polemik.
“Kami fokus pada apa yang akan datang dan tidak ingin membahas hal itu,” ujarnya. “Jawaban kami mengikuti pernyataan federasi, dan sekarang kami menatap ke depan.”
Sebaiknya Anda baca juga:
Dukungan publik Maroko pun solid. Ribuan suporter yang memadati stadion di Madrid, banyak di antaranya datang dari luar negeri, meyakini keputusan CAF sudah tepat.
“Kalau aturan sudah jelas, harus diikuti,” kata seorang suporter, Yassine El Aouak. “Kami percaya pantas menjadi juara.”
Hal senada diungkapkan pendukung lain, Taha El Hadiguy, yang menyebut kemenangan administratif tetap sah secara regulasi. “Memang berbeda rasanya dibanding menang di lapangan saat final, tapi kemenangan tetaplah kemenangan. Kini kami punya satu bintang tambahan di jersey.”
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebelum keputusan tersebut, Maroko hanya sekali menjuarai AFCON, yakni pada 1976. Kini, status juara baru menambah kepercayaan diri tim berjuluk Atlas Lions itu.
Media di Maroko sendiri lebih menyoroti persiapan menuju Piala Dunia ketimbang polemik hukum yang masih bergulir. Pelatih Ekuador, Sebastian Beccacece, bahkan menyebut Maroko sebagai “juara Afrika” usai laga uji coba.
Di bawah arahan Ouahbi, Maroko kini secara teknis tak terkalahkan dalam 25 pertandingan, meski sempat kalah di final sebelum hasilnya dianulir. Sang pelatih menegaskan timnya berada di level tertinggi dunia.
“Tim ini bukan memiliki kelemahan, melainkan kekuatan. Kami adalah tim papan atas,” ujar Ouahbi. “Jika ada kekurangan, kami akan menutupinya secara kolektif.”
Maroko dijadwalkan menghadapi Brasil, peraih lima gelar Piala Dunia, pada laga pembuka fase grup 13 Juni mendatang, salah satu duel paling dinanti di turnamen.
Sementara proses hukum yang diajukan Senegal masih berjalan, fokus Maroko tetap tertuju pada panggung global. Bagi mereka, pembuktian sejati akan datang di lapangan, bukan di ruang sidang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (2)
29 Mar 2026, 11:16 WIB.
Komentar dihapus otomatis karena terindikasi sebagai spam
Balas29 Mar 2026, 11:16 WIB.
Komentar dihapus otomatis karena terindikasi sebagai spam
BalasSilakan login via Google untuk dapat memberi komentar!