Masjid Tua di Beijing Ini Jadi 'Surga' Tersembunyi Muslim Dunia
📅 Kamis, 12 Mar 2026, 16:52 WIB | Oleh: AlfredBEIJING - Aroma kaldu sapi dan kehangatan persaudaraan menyeruak dari halaman Masjid Haidian, sebuah bangunan bersejarah dari abad ke-17 di jantung kota Beijing. Di bawah bayang-bayang gedung modern dan kampus elit seperti Universitas Tsinghua, puluhan Muslim dari berbagai penjuru dunia berkumpul setiap sore.
Bagi Mohamed Omar Masoud, mahasiswa asal Zanzibar, meja-meja bundar di masjid ini bukan sekadar tempat berbuka puasa, melainkan pengobat rindu akan rumah yang letaknya ribuan kilometer dari Negeri Tirai Bambu.
“Di Zanzibar, Ramadhan adalah waktu bersama keluarga. Biasanya kami mengundang kerabat, teman, atau rekan kerja untuk berbuka dengan makanan yang disiapkan,” kata Mohamed Omar Masoud, mahasiswa magister asal Zanzibar, Tanzania, Selasa (10/3).
“Di Masjid Haidian, saya berbuka setiap hari karena atmosfernya mengingatkan saya pada suasana kebersamaan saat berbuka di Zanzibar,” tambah Masoud.
Masjid Haidian menyediakan buka puasa setiap hari dengan hidangan di meja bundar di halaman depan, dapat dinikmati bersama jemaah dari berbagai negara, termasuk perempuan dan warga lokal.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meski merindukan keluarga dan masakan rumah, Masoud mengatakan puasa di Beijing berjalan lancar, walau Ramadhan di perantauan terasa berbeda.
“Saya rindu makanan khas Zanzibar seperti singkong rebus dimasak dengan air kelapa dan disajikan dengan ikan bercita rasa asam,” ujarnya.
Namun, kerinduan itu tergantikan oleh komunitas Muslim di Masjid Haidian, yang baginya menjadi keluarga baru.
“Kami berbeda negara dan bahasa, tapi sebagai Muslim kami bersaudara. Itu sebabnya saya datang tiap hari, duduk dan makan bersama orang-orang yang membuat saya merasa seperti di rumah,” kata Masoud.
Selama berbuka, ia berteman dengan jemaah dari Nigeria, Zambia, Sierra Leone, Pakistan, Uzbekistan, dan Muslim lokal China.
Meski ada kendala bahasa, Mohamed menyebut interaksi dengan Muslim China lebih mudah karena cukup menyapa dengan “assalamu’alaikum” untuk memulai percakapan.
Ikatan persaudaraan membuatnya merasa aman dan diterima, ditambah interaksi hangat meski berbeda latar belakang.
Masjid Haidian yang dibangun pada akhir Dinasti Ming abad ke-17 ini menyediakan buka puasa gratis bagi 40 jemaah setiap hari selama Ramadhan.
Di sekitar masjid juga terdapat toko makanan halal yang menjual hidangan sapi Yaofengcheng, daging kambing olahan, dan bakpao.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!