Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Bukan Sekadar Sisa Evolusi, Terungkap Fungsi Tersembunyi Usus Buntu

📅 Rabu, 11 Mar 2026, 06:52 WIB | Oleh:
Bukan Sekadar Sisa Evolusi, Terungkap Fungsi Tersembunyi Usus Buntu Doc: Foto Domain Publik
Ket. Ilustrasi Usus buntu, Ususu buntu terletak di persimpangan usus halus dan usus besar.

NARASI konvensional mengenai usus buntu berakar dari pemikiran Charles Darwin, naturalis Inggris pelopor teori seleksi alam. Dalam bukunya, The Descent of Man, Darwin mengonseptualisasikan usus buntu sebagai organ vestigial sisa peninggalan nenek moyang herbivora yang memiliki organ pencernaan jauh lebih masif.

Selama lebih dari satu abad, interpretasi reduksionis ini mendominasi literatur medis dan pemahaman publik. Namun, temuan terbaru menunjukkan bahwa sejarah evolusi usus buntu jauh lebih kompleks dan dinamis. Phil Starks (Profesor Madya Biologi) dan Lilia Goncharova dari Universitas Tufts, bersama kolega mereka Helene M. Hartman, mengintegrasikan keahlian ekologi perilaku, biologi, dan sejarah untuk meninjau ulang literatur ilmiah mengenai organ ini.

“Kami justru menemukan organ yang terus-menerus ‘diciptakan kembali’ oleh evolusi; sebuah struktur yang jauh lebih menarik daripada yang dibayangkan kebanyakan orang,” sebagaimana dilansir dari laman Science Alert.

Bagaimana Usus Buntu Berevolusi?

Secara anatomis, usus buntu adalah kantung kecil yang bercabang dari sekum (bagian awal usus besar). Morfologi dan strukturnya sangat variatif antarspesies sebuah indikasi kuat bahwa evolusi telah memodifikasinya berulang kali.

Primata & Manusia memiliki usus buntu panjang dan silindris. Marsupial (Wombat & Koala), memiliki struktur yang lebih pendek atau berbentuk corong. Pengerat & Kelinci menunjukkan variasi proporsi yang berbeda atau bahkan bercabang.

Keragaman ini menunjukkan bahwa tekanan ekologis yang berbeda mendorong modifikasi organ tersebut secara spesifik. Analisis evolusi perbandingan mengungkapkan bahwa usus buntu berevolusi secara independen di setidaknya tiga garis keturunan mamalia: marsupialia, primata, dan glires (kelompok pengerat). Survei yang lebih luas menemukan bahwa organ ini muncul secara terpisah setidaknya 32 kali pada 361 spesies mamalia.

Fenomena munculnya sifat serupa secara independen pada garis keturunan yang berbeda ini disebut sebagai evolusi konvergen. Dalam biologi, konvergensi menunjukkan bahwa struktur tersebut memberikan keuntungan adaptif yang konsisten di bawah kondisi lingkungan tertentu. Dengan kata lain, usus buntu bukanlah sebuah “kecelakaan” evolusi yang nirlaba.

Fungsi Vital

Usus buntu berperan aktif dalam mendukung sistem kekebalan tubuh melalui jaringan limfoid terkait usus (gut-associated lymphoid tissue). Sel-sel imun yang tertanam di dinding usus ini membantu memantau aktivitas mikroba. Pada awal kehidupan, jaringan ini melatih sel imun untuk membedakan antara simbion yang bermanfaat dan patogen yang berbahaya.

Selain fungsi imun, Prof. Starks menyoroti hipotesis “tempat perlindungan” (safe house). “Para peneliti mengusulkan bahwa usus buntu bertindak sebagai tempat perlindungan mikrobioma melalui lapisan biofilm komunitas bakteri terstruktur yang melapisi organ tersebut,” ungkapnya.

Saat terjadi infeksi gastrointestinal parah (seperti diare akut) yang menyapu bersih mikrobioma di usus besar, bakteri bermanfaat yang terlindungi di dalam biofilm usus buntu akan bertahan hidup. Pasca-infeksi, bakteri ini akan keluar untuk mengisi kembali (repopulate) usus, membantu pencernaan, menekan patogen, serta berinteraksi dengan sistem imun guna mempercepat pemulihan.

Dampak terhadap ­Reproduksi

Muncul pertanyaan: jika usus buntu menjaga stabilitas mikroba, apakah pengangkatannya memengaruhi kesuburan? Kekhawatiran medis lama menduga bahwa radang usus buntu atau prosedur apendiktomi dapat memicu peradangan dan jaringan parut (adhesi) pada tuba falopi yang menghalangi jalan sel telur.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Bediding Bukan Fenomena Cuaca Ekstrem

31 menit yang lalu | Sujar

Daerah
Bediding Bukan Fenomena Cua...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Indonesia Vs Oman 3-0, Tambah Gol Keunggulan dari Kaki Ragnar Oratmangoen di Babak Kedua

Indonesia Vs Oman 3-0, Tambah Gol Keunggulan dari Kaki Ragnar Oratmangoen di Babak Kedua

05 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.