IHSG Dibuka Melemah 2,79 Persen, Mengikuti Bursa Asia Imbas Lonjakan Harga Minyak Global
📅 Senin, 09 Mar 2026, 09:58 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (9/3) bergerak turun mengikuti pelemahan bursa saham kawasan Asia imbas melonjaknya harga minyak di tingkat global.
IHSG dibuka melemah 211,38 poin atau 2,79 persen ke posisi 7.374,31. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 22,31 poin atau 2,87 persen ke posisi 753,74.
"Kiwoom Research ingatkan para investor bahwa volatilitas masih akan tinggi sepekan ini, dengan risiko konsolidasi lanjutan ke arah 7.335. Perbanyak sikap wait and see sambil perhatikan sentimen global ," ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Senin.
Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran telah meluas ke berbagai wilayah, dan meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Investor beralih ke aset aman dan likuiditas, yang mendorong dolar AS menguat sementara saham dan aset berisiko mengalami tekanan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ketidakpastian meningkat setelah Iran menunjuk Mojtaba Khamenei, putra dari pemimpin tertinggi yang tewas Ayatollah Ali Khamenei, sebagai Supreme Leader baru.
Penunjukan figur yang dikenal dekat dengan kelompok hardliner tersebut, memperkuat persepsi bahwa Iran kemungkinan tidak akan segera melunak dalam konflik dengan AS dan Israel, sehingga meningkatkan risiko eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Harga minyak melonjak tajam akibat eskalasi konflik dan gangguan pelayaran di Selat Hormuz . Pada pagi ini pukul 07.50 WIB, Harga minyak Crude Oil WTI naik 20,81 persen ke level 109,82 dolar AS per barel dan Brent Oil naik 18,17 persen ke 109,53 dolar AS per barel.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Lonjakan harga energi meningkatkan risiko inflasi global serta dapat menekan pertumbuhan ekonomi melalui kenaikan harga bahan bakar dan biaya produksi. Beberapa produsen energi Timur Tengah mulai mengurangi produksi akibat gangguan rantai pasokan," ujar Liza.
Sementara itu, hubungan perdagangan antara AS dan China tetap rapuh menjelang rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada akhir Maret 2026, yang diperkirakan fokus menjaga stabilitas hubungan ekonomi daripada melakukan reset besar dalam hubungan bisnis dan investasi.
AS ingin memastikan China tetap memenuhi komitmennya dalam kesepakatan perdagangan, termasuk pembelian produk pertanian AS, pesawat Boeing serta pasokan rare earth. Salah satu potensi kesepakatan yang dibahas adalah pembelian sekitar 500 pesawat narrow-body Boeing oleh China.
Pada pekan ini, Liza mengatakan fokus pelaku pasar akan tertuju pada dua faktor utama yaitu perkembangan konflik di Timur Tengah dan data inflasi AS.
Di sisi makro, perhatian tertuju pada rilis Consumer Price Index (CPI) AS Februari 2026. Kejutan inflasi yang lebih tinggi dapat memperkuat kekhawatiran bahwa lonjakan harga energi akan menunda siklus pemangkasan suku bunga The Fed, dengan probabilitas pemangkasan sekitar 25 bps pada Juni 2026 saat ini diperkirakan berada di kisaran 45 persen.
Dari dalam negeri, pemerintah menyusun simulasi dampak lonjakan harga minyak terhadap fiskal negara, dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa apabila harga minyak rata-rata mencapai 92 dolar AS per barel maka defisit APBN berpotensi melebar hingga 3,6-3,7 persen dari PDB apabila tidak ada kebijakan penyesuaian.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!