Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Campak pada Anak Sering Berawal Seperti Flu, Ini Penjelasan Dokter

📅 Sabtu, 07 Mar 2026, 21:55 WIB | Oleh:
Campak pada Anak Sering Berawal Seperti Flu, Ini Penjelasan Dokter Doc: Antara Foto
Ket. Seorang anak menerima imunisasi campak.

Dokter umum RS Sari Asih Cipondoh dr. Putri Mutiara Sari mengatakan gejala campak sering kali menyamar sebagai flu biasa di tahap awal diikuti panas tinggi dan biasanya baru muncul tujuh hingga 14 hari setelah anak terpapar virus.

Ia menambahkan setelah flu menyerang anak, kemudian diikuti kombinasi gejala lainnya seperti demam drastis yang bisa melonjak tajam hingga menyentuh angka 40°C. Lalu gejala pernapasan dan mata dengan kondisi batuk kering, hidung tersumbat serta mata yang memerah dan berair.

Gejala lainnya adalah bintik koplik sebagai tanda khas di area dalam mulut yakni pipi bagian dalam. Jika ada bintik putih keabu-abuan dengan dasar merah maka itu sebagai tanda kuat campak yang muncul 1-2 hari sebelum ruam luar terlihat.

"Sedangkan untuk ruam merah yang menyebar biasanya muncul pertama kali di area wajah dan belakang telinga, lalu turun menyebar ke seluruh tubuh hingga kaki dalam waktu sekitar satu minggu," kata dr. Putri Mutiara Sari di Tangerang Sabtu.

Apabila telah diketahui terdiagnosis campak, maka fokus utama adalah menjaga kenyamanan dan mempercepat pemulihan dengan istirahat total dan Isolasi untuk memutus rantai penularan.

Cegah dehidrasi sebab demam tinggi dan sariawan sering membuat anak malas minum. Pemberian air putih, sup hangat atau jus buah secara rutin. Lalu diikuti juga pemberian obat penurun panas sesuai anjuran dokter. "Hindari penggunaan aspirin pada anak karena risiko komplikasi fatal," katanya.

Tetapi jika demam tinggi tak kunjung reda dalam tiga hari maka segera membawa anak ke dokter. Hal lain yang penting untuk segera dirujuk ke fasilitas kesehatan adalah bibir sangat kering, jarang buang air kecil. Gangguan pernapasan seperti sesak napas atau nyeri dada. Lalu anak tampak sangat lemas, tidak sadar, atau mengalami kejang.

"Tanpa penanganan medis yang tepat, campak dapat berkembang menjadi infeksi telinga, paru-paru basah hingga ensefalitis radang otak," katanya.

Sebelumnya Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang telah mengeluarkan imbauan bagi anak-anak yang mengalami gejala campak untuk tidak berangkat ke sekolah guna mencegah penularan lebih luas karena adanya lonjakan kasus pada awal tahun 2026.

Kepala Dinkes Kota Tangerang Dini Anggraeni mengatakan penularan campak tidak hanya terjadi melalui kontak langsung, tetapi juga lewat udara dari percikan batuk dan bersin

Ia mengatakan kasus campak di Kota Tangerang sejak akhir 2025 hingga awal 2026 alami tren peningkatan dan masih bersifat fluktuatif setiap minggunya dengan jumlah kasus mencapai ratusan setiap bulan.

”Kondisi ini meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Lonjakan tersebut menunjukkan adanya peningkatan yang menjadi perhatian serius pemerintah daerah dan sektor kesehatan.”

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Pelaksanaan program penghapusan bentor

11 menit yang lalu | Wahyu AP

Nasional
Pelaksanaan program penghap...
Megapolitan
Pemprov DKI gelar program o...
Megapolitan
Jelang Pertunjukkan Teater ...
Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.