Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

MBG Ditegaskan Tak Pangkas Anggaran Pendidikan, Justru Dukung Kualitas Belajar

📅 Kamis, 05 Mar 2026, 16:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
MBG Ditegaskan Tak Pangkas Anggaran Pendidikan, Justru Dukung Kualitas Belajar Doc: Antara
Ket. Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah RI Hariqo Wibawa Satria dalam siniar "Menjawab Kontroversi Makan Bergizi Gratis (MBG)" bersama ANTARA di Jakarta pada Kamis (5/3).

Jakarta - Pemerintah menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak mengurangi anggaran pendidikan untuk merespons narasi yang beredar di publik bahwa program tersebut menyedot dana cukup besar dari APBN, termasuk pendidikan dan kesehatan.

Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah RI Hariqo Wibawa Satria dalam siniar di Jakarta pada Kamis (5/3) menjelaskan, anggaran pendidikan di tahun 2026 mencapai Rp769,8 triliun, yang di dalamnya terdapat komponen alokasi anggaran sebesar Rp223,5 miliar untuk Badan Gizi Nasional (BGN) mengelola Program MBG.

"Gizi itu fondasi dari belajar. Jadi, MBG ini bukan mengurangi pendidikan, melainkan justru memastikan anggaran pendidikan yang besar tidak menjadi sia-sia karena siswa siap untuk belajar," kata Hariqo.

Ia menegaskan, MBG justru menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pendidikan karena gizi merupakan fondasi bagi proses belajar siswa. Selain itu, berbagai program pendidikan lain tidak mengalami pengurangan anggaran, bahkan beberapa di antaranya meningkat, seperti tunjangan guru dan bantuan pendidikan.

"Dokumen yang disebarkan itu menunjukkan klasifikasi fungsi anggaran atau komponen anggaran pendidikan, bukan pemotongan anggaran pendidikan. Jadi, yang keliru bukan APBN nya, tetapi cara membacanya, karena MBG dan pendidikan itu adalah sebuah kesatuan, dan anggaran pendidikan tahun 2026 telah disepakati bersama-sama oleh pemerintah dan DPR RI," paparnya.

Bukan sekadar memberi makan, Program MBG menjadi fondasi pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045, mengingat data yang dihimpun pemerintah menunjukkan 96 persen masyarakat Indonesia selama ini kurang mengonsumsi sayur dan buah, 66 persen anak memiliki pola makan buruk, serta 65 persen anak tidak sarapan sebelum berangkat sekolah.

"Selain itu, 32 persen remaja putri mengalami anemia dan 21 persen balita mengalami stunting," ujar dia.

Hariqo juga menambahkan, melalui MBG, pemerintah ingin membangun budaya baru, yaitu kebiasaan makan sehat dan kesadaran gizi sejak usia sekolah.

"Indonesia Emas 2045 itu sederhana, anak-anak kita punya pendapatan tinggi, badannya sehat, otaknya cerdas, akhlaknya baik, dan mampu bersaing dengan bangsa lain. Melalui MBG, maka terbangun budaya makan yang bergizi. Jika anak-anak itu tadinya tidak mau makan sayur dan buah, ketika melihat teman-temannya dan makan bersama, maka kebiasaan makan bergizi itu otomatis terbangun," ucap Hariqo.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Nasional
IPW Dorong Kapolri Perkuat ...
Advertisement
Parah, Ombudsman RI Temukan Gangguan Layanan BBM di 11 Provinsi

Parah, Ombudsman RI Temukan Gangguan Layanan BBM di 11 Provinsi

14 Oct 2026
Pilihan Pembaca
# 7
# 7
Rupiah Masih Rentan - 14 Oktober 2026
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.