Inflasi Februari Melonjak, BI Sebut Faktor Low Base Effect
📅 Senin, 02 Mar 2026, 22:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/ HO-Bapanas
JAKARTA – Inflasi tahunan (yoy) Februari yang melonjak tajam mendorong Bank Indonesia memberikan penjelasan bahwa kenaikan tersebut dipengaruhi faktor low base effect.
Artinya, tingkat inflasi Februari 2026 terlihat tinggi karena dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang relatif rendah, sehingga secara statistik lonjakannya tampak signifikan.
Penjelasan ini mengindikasikan bahwa tekanan inflasi tidak sepenuhnya berasal dari lonjakan harga baru yang masif, melainkan efek pembanding yang rendah.
Meski demikian, BI tetap perlu mencermati potensi tekanan lanjutan, terutama jika kenaikan harga energi dan pangan berlanjut, agar ekspektasi inflasi masyarakat tetap terjaga dan stabilitas harga tidak terganggu.
Bank Indonesia (BI) menjelaskan, pengaruhi "low base effect" atau efek basis rendah di mana pada tahun lalu pemerintah menerapkan kebijakan diskon tarif listrik yang mendorong deflasi, maka inflasi Februari 2026 melonjak mencapai 4,76 persen (year on year/yoy).
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kita harus membacanya dengan baik. Inflasi 4,76 persen itu kenapa? Karena ada administered prices yang pada bulan Januari dan Februari 2025 mendapatkan diskon harga,” kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman di Jakarta, Senin (2/3).
Pada Januari hingga Maret 2025, kelompok harga diatur pemerintah (administered prices/AP) mencatatkan deflasi, dengan penurunan terdalam terjadi pada Februari 2025 sebesar minus 9,02 persen (yoy).
Sementara pada Februari 2026, kelompok yang sama justru mengalami inflasi 12,66 persen. Perbedaan tajam inilah yang menyebabkan inflasi tahunan tampak melonjak tinggi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meski demikian, inflasi inti (core inflation) yang mencerminkan sisi permintaan tercatat masih terjaga di level 2,63 persen (yoy) pada Februari 2026. Aida menjelaskan bahwa hal ini berarti tekanan inflasi secara fundamental relatif terkendali.
Terkait momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), Aida menjelaskan, tekanan inflasi biasanya mulai terasa menjelang hari raya, mencapai puncak saat perayaan berlangsung, dan mereda setelahnya. Secara umum, kenaikan harga di periode tersebut cenderung lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan biasa.
Tekanan tertinggi biasanya terjadi pada kelompok harga bergejolak (volatile food/VF). Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan permintaan musiman yang dapat mengganggu kelancaran pasokan, sehingga harga menjadi lebih mudah berfluktuasi.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Firman Mochtar menambahkan bahwa secara umum tren inflasi volatile food menunjukkan penurunan.
Upaya menjaga harga pangan menjadi sangat penting, tidak hanya untuk menjaga stabilitas harga, tetapi juga untuk mempertahankan daya beli masyarakat.
Pada Februari 2026, inflasi volatile food tercatat sebesar 2,5 persen secara bulanan (month to month/mom) dan 4,64 persen secara yoy. Angka tersebut, catat Firman, masih berada dalam kisaran target Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP), yaitu di bawah 5 persen untuk komponen volatile food.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!