Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Alokasi B40 2026 Naik Jadi 15,646 Juta KL, Ini Kata Produsen Biofuel

📅 Kamis, 26 Feb 2026, 09:24 WIB | Oleh: Tim Redaksi

Ekspor ke AS

Terkait dengan peluang ekspor ke Amerika Serikat (AS), meskipun negara tersebut sudah menetapkan tarif impor 0 persen, ekspor sawit Indonesia ke AS belum tentu meningkat, mengingat produksi nasional tahun ini diperkirakan turun hingga 6 persen dan biaya logistik masih tinggi.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga menilai kebijakan tarif impor 0 persen yang diberlakukan AS untuk minyak sawit asal Indonesia sebagai langkah positif bagi ekspor nasional.

“Kalau saya bilang itu bagus bagi kita ya. Jangan lupa produksi kita tahun ini kemungkinan besar drop 5 hingga 6 persen dibandingkan dengan tahun lalu,” kata Sahat dalam acara Buka Puasa dan Bincang Santai di Rusty Rabbit Cafe & Resto Karet Kuningan, Jakarta, Selatan, Rabu (25/2).

Menurut Sahat, ada dua penyebab utama penurunan produksi tersebut. Pertama, faktor iklim yang memengaruhi produktivitas tandan buah (TBS) segar di sejumlah sentra perkebunan.

Kedua, banyak lahan sawit yang masuk kawasan hutan dan kemudian diambil alih oleh pemerintah, sehingga tidak lagi bisa dikelola oleh petani.

“Nah kontinuitas produksinya terjamin enggak sesudah diambil? Siapa yang jamin? Karena petaninya nggak boleh ngerjakan. Nah sekarang siapa yang ngerjain? Kan perlu dicari,” kata Sahat.

Dia menilai proses transisi pengelolaan lahan tersebut perlu mendapat perhatian serius agar tidak menimbulkan kekosongan pengawasan di lapangan. Tanpa kepastian pengelolaan, keberlanjutan produksi dinilai berisiko terganggu.

“Dengan kondisi seperti ini, kemungkinan besar produksi kita akan drop. Yang terjadi apa? Pencurian yang banyak karena pemilik sudah dipalang, tidak boleh lagi ikut campur. Berarti pemerintah yang harus pegang. Terawasi enggak itu?” ujar dia.

Dari sisi pasar, AS tetap menjadi tujuan ekspor penting. Berdasarkan pemetaan industri, ekspor sawit Indonesia ke kawasan Pacific Rim, yang mencakup AS, Kanada, dan Meksiko, berkisar 3,5 hingga 4 juta ton per tahun. Khusus ke pasar AS, volumenya sekitar 2,5 hingga 2,8 juta ton.

Meski tarif sudah menjadi 0 persen, Sahat mengingatkan daya saing Indonesia juga ditentukan oleh efisiensi logistik. Dia mencontohkan pengiriman minyak sawit dari Papua yang masih harus melalui Jakarta sebelum diekspor ke AS, sehingga menimbulkan biaya tambahan.

Menut Sahat, Indonesia belum strategis memanfaatkan keunggulan geografisnya. Sebagai contoh, minyak sawit dari Papua kerap dikirim lebih dulu ke Jakarta sebelum diekspor ke Amerika Serikat, sehingga menimbulkan biaya ganda.

Biaya pengiriman dari Papua ke Jakarta diperkirakan sekitar 30 dolar AS per ton. Sementara ongkos ekspor ke AS mencapai sekitar 110 dolar AS per ton, lebih tinggi dibandingkan Malaysia yang disebut berada di kisaran 90 dolar AS per ton karena faktor jarak dan infrastruktur.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar

Prosesi adat kansoda'a di Wakatobi

1.5 jam yang lalu | Wahyu AP

Wisata
Prosesi adat kansoda'a di W...
Ekonomi
Neraca perdagangan Indonesi...
Nasional
Presiden Prabowo lantik Wan...
Olahraga
Fitriani/Fadona melaju ke f...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.