“Picu Ketagihan”, Uni Eropa Desak TikTok Ubah Desain
📅 Minggu, 08 Feb 2026, 20:53 WIB | Oleh: Opik
Doc: Antara/Livia Kristianti
JAKARTA - Uni Eropa (UE) meminta TikTok untuk mengubah desain layanannya yang dinilai adiktif alias “membuat ketagihan”, jika tidak, platform tersebut terancam menghadapi denda besar.
Laman BBC, Sabtu (7/2) waktu setempat, melaporkan permintaan ini muncul setelah UE menyimpulkan bahwa platform berbagi video tersebut melanggar aturan keselamatan daring.
Keputusan ini merupakan hasil penyelidikan Komisi Eropa yang dimulai pada Februari 2024 terhadap aplikasi milik perusahaan asal Tiongkok tersebut.
Dalam temuan sementara, Komisi Eropa menyatakan TikTok tidak “menilai secara memadai” dampak fitur-fitur seperti pemutaran otomatis (autoplay) terhadap kesehatan dan kesejahteraan penggunanya, termasuk anak-anak. TikTok juga dinilai gagal menerapkan langkah-langkah untuk mengurangi risiko tersebut.
Juru bicara TikTok mengatakan bahwa temuan itu merupakan gambaran yang “sepenuhnya salah dan tidak berdasar” tentang platform mereka, dan TikTok berencana untuk menantangnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
TikTok diberi kesempatan untuk menanggapi temuan UE tersebut. Jika hasil akhirnya tetap merugikan TikTok, Komisi Eropa dapat menjatuhkan denda hingga enam persen dari total pendapatan tahunan global perusahaan, yang diperkirakan mencapai puluhan miliar.
Kepala urusan teknologi UE, Henna Virkkunen, mengatakan bahwa jika TikTok ingin menghindari denda, perusahaan harus “mengubah desain layanannya di Eropa”.
Komisi Eropa mengajukan beberapa saran, antara lain menerapkan fitur “jeda waktu layar” saat pengguna memakai aplikasi pada malam hari, serta mengubah algoritma yang menyajikan konten secara personal kepada pengguna.
Sebaiknya Anda baca juga:
UE juga menyarankan agar TikTok menonaktifkan fitur “gulir tanpa batas” (infinite scroll), yang memungkinkan pengguna terus menonton jutaan video tanpa henti.
“Undang-Undang Layanan Digital membuat platform bertanggung jawab atas dampak yang mereka timbulkan pada pengguna. Di Eropa, kami menegakkan hukum untuk melindungi anak-anak dan warga kami di dunia online.” kata Virkkunen.
Profesor Sonia Livingstone dari London School of Economics mengatakan bahwa meskipun TikTok sudah memperkenalkan beberapa alat untuk meningkatkan keamanan penggunanya, langkah tersebut belum cukup untuk memenuhi pedoman yang ditetapkan UE.
“Anak muda sendiri sudah menyerukan perubahan seperti ini. Mereka frustrasi karena platform tidak memprioritaskan kesejahteraan mereka dibandingkan keuntungan.” ujar Livingstone.
Pakar media sosial Matt Navarra menambahkan bahwa meskipun istilah “ketagihan” sering disalahgunakan dalam perdebatan seperti ini, temuan Komisi Eropa tampaknya didasarkan pada “ilmu perilaku yang nyata”.
Ia mengatakan hal ini menandai “perubahan besar” dalam cara regulator memandang platform media sosial.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!