Survei The Japan Foundation: Indonesia Menempati Peringkat Kedua Pembelajar Bahasa Jepang Dunia
📅 Sabtu, 07 Feb 2026, 22:30 WIB | Oleh: Ilham Sudrajat
Doc: RRI/Eliana Zahra
JAKARTA - Asisten Direktur The Japan Foundation Miyake Shota mengatakan, Indonesia menduduki peringkat kedua dunia dalam jumlah pembelajar bahasa Jepang. Menurut dia, fakta tersebut berdasarkan hasil survei terbaru yang dilakukan oleh The Japan Foundation.
Prestasi ini menjadi alasan utama penyelenggaraan kompetisi membaca yang kini telah memasuki tahun kedua pelaksanaannya di Indonesia. Bahkan, pihaknya merasa sangat bangga melihat antusiasme besar para siswa Indonesia dalam mempelajari bahasa serta budaya Jepang.
"Menurut survei The Japan Foundation, Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam jumlah pembelajar bahasa Jepang. Pembelajaran tersebut dilakukan di berbagai instansi pendidikan," ujar Miyake di Jakarta, Sabtu (7/2).
The Japan Foundation mencatat jumlah pendaftar tahun ini melonjak drastis hingga lima kali lipat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sebanyak 578 sekolah dari 34 provinsi telah mengirimkan perwakilan mereka.
Miyake menilai proses membaca literatur asing secara mendalam sangat efektif untuk memahami kebudayaan negara lain dengan baik. Imajinasi pembaca akan terasah saat berusaha menyelami makna setiap kalimat yang ditulis oleh para pengarang mancanegara tersebut.
Sebaiknya Anda baca juga:
Asisten Manajer Penerbit Clover M&C, Driartha Vera, menyebut tema cerita yang dekat dengan masalah remaja menjadi kunci utama. Vera berpendapat bahwa kemiripan problem sosial di sekolah membuat pembaca lokal merasa sangat terhubung dengan narasi buku.
Meskipun berlatar belakang budaya Jepang, kedekatan emosional tokoh utama mampu menghapus batasan kendala bahasa bagi pembaca Indonesia. Novel bertajuk Kastil Terpencil di Dalam Cermin dianggap sukses menampilkan dinamika kehidupan pelajar yang sangat relevan saat ini.
“Dari kami selaku penerbit, saat membaca cerita Kastil Terpencil di Dalam Cermin, kami merasa pesan yang disampaikan Tsujimura Sensei sangat kuat. Pesan tersebut memiliki keterkaitan erat dengan persoalan yang dihadapi para pelajar di Indonesia," ujar Vera.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tantangan terbesar bagi pihak penerbitan adalah menerjemahkan emosi karakter ke dalam pilihan kata-kata yang sangat tepat sasaran. Narasi harus disusun sedemikian rupa agar ketakutan serta harapan tokoh utama dapat dirasakan langsung oleh setiap pembaca.
Vera mengatakan, pemilihan kalimat yang keliru akan membuat sebuah mahakarya hanya menjadi sekadar rentetan peristiwa biasa. Efek dramatis dari cerita harus tetap terjaga orisinalitasnya meskipun telah dialihkan ke dalam bahasa Indonesia secara resmi.
"Jadi penting sekali bagi kita untuk bisa memilih kata-kata yang tepat. Kemudian memilih kalimat yang tepat sehingga itu betul-betul terasa," kata Vera.
Pihak penerbit menepis anggapan negatif mengenai rendahnya minat baca masyarakat Indonesia pada berbagai survei literasi selama ini. Vera meyakini, masyarakat hanya membutuhkan akses terhadap jenis cerita yang tepat dan relevan dengan kehidupan pribadi. ils/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!