Pesan Moral untuk Petugas Haji: Layani Jamaah dengan Tulus, Bukan Sekadar Nebeng
📅 Senin, 02 Feb 2026, 07:20 WIB | Oleh: Yebdi TrismarKetegasan tersebut adalah sinyal bahwa negara tidak main-main. Mereka yang terpilih dan berdiri di lapangan becek itu adalah orang-orang yang benar-benar siap secara fisik, mental, dan integritas. Tidak ada ruang bagi mereka yang manja atau manipulatif.
Wajah negara
Dalam amanat pengukuhannya, Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf memberikan perspektif yang lebih luas mengenai peran petugas haji. Menhaj mengingatkan bahwa penyelenggaraan haji adalah amanah besar yang menyangkut kehormatan bangsa dan wibawa Indonesia di mata dunia internasional.
"Setiap tahun, Indonesia mengirimkan jemaah haji dalam jumlah terbesar di dunia. Fakta ini menuntut kesiapan kita yang sungguh-sungguh," ujar Menhaj.
Sebaiknya Anda baca juga:
Petugas haji disebutnya sebagai "wajah negara". Baik buruknya pelayanan yang dirasakan oleh jamaah, serta bagaimana dunia melihat ketertiban jamaah Indonesia, sangat bergantung pada performa para petugasnya.
Di tengah kepadatan jutaan manusia di Tanah Suci, perbedaan latar belakang budaya, serta tekanan fisik dan emosional yang ekstrem, petugas dituntut untuk tetap tenang, sigap, dan bertanggung jawab.
Pekerjaan ini menuntut lebih dari sekadar kemampuan teknis, ia memerlukan integritas moral. Setiap bantuan yang diberikan, setiap masalah yang diselesaikan, dan setiap kesabaran yang petugas tunjukkan adalah bagian dari tanggung jawab moral dan tanggung jawab keagamaan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Hal itu sangat relevan mengingat tantangan di Arab Saudi yang tidak ringan. Petugas harus siap menghadapi jamaah lansia, jamaah yang tersesat, hingga situasi darurat kesehatan. Tanpa disiplin dan empati yang kuat, mustahil tugas tersebut dapat diselesaikan dengan baik.
Secara khusus, apresiasi dan beban tanggung jawab juga diletakkan di pundak tim Media Center Haji (MCH). Dalam kerumunan petugas yang dikukuhkan, MCH memegang peran vital sebagai jembatan informasi. MCH, bersama seluruh petugas lainnya, mengemban tiga amanah: Amanah dari Allah SWT, amanah dari jamaah haji, dan amanah dari negara.
Tugas mereka bukan sekadar meliput, tetapi memastikan transparansi, memberikan edukasi kepada publik di Tanah Air, serta menjadi mata dan telinga negara dalam mengawasi jalannya pelayanan.
Keberadaan mereka memastikan bahwa setiap dinamika haji terekam dan tersampaikan dengan akurat, menepis kabar bohong atau hoaks yang seringkali meresahkan keluarga jamaah di Indonesia.
Setelah pengukuhan, tugas belum selesai. Para petugas masih harus menjalani 10 hari pelatihan daring yang akan fokus pada pendalaman bahasa Arab dan fiqih haji dasar. Ini adalah fase intelektual setelah fase fisik dan mental di asrama.
Pemerintah berharap, sekembalinya dari diklat, para petugas membawa pulang "habitus baru". Kebiasaan bangun jam 4 pagi, berolahraga lari atau jalan kaki, serta disiplin waktu diharapkan terus terbawa hingga hari keberangkatan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!