Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Gandeng Startup, Kemenperin Perluas Akses Kerja Penyandang Disabilitas di Industri

📅 Senin, 02 Feb 2026, 21:20 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Gandeng Startup, Kemenperin Perluas Akses Kerja Penyandang Disabilitas di Industri Doc: istimewa
Ket. Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita (kedua kiri) meninjau pada siswa seusai membuka kegiatan “Pengembangan Inklusi Sektor Manufaktur untuk Disabilitas” di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Semarang, 28 Januari 2026

JAKARTA-Pemerintah terus mendorong pertumbuhan dan perkembangan industri manufaktur karena merupakan penggerak dan penopang perekonomian nasional, salah satunya melalui penyediaan lapangan kerja yang berkelanjutan. 

Selain kuantitas, aspek inklusivitas juga menjadi perhatian utama, termasuk keterbukaan dan kesetaraan kesempatan kerja bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali, termasuk penyandang disabilitas, agar dapat berpartisipasi aktif dalam pembangunan industri nasional.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, penguatan sektor industri manufaktur harus berjalan seiring dengan prinsip keadilan sosial dan inklusivitas. Sebab, sektor industri manufaktur memiliki peran strategis dalam menyerap tenaga kerja nasional. 

"Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian berkomitmen memastikan agar pembangunan industri juga membuka ruang partisipasi yang setara bagi penyandang disabilitas, sehingga mereka dapat berkontribusi secara produktif dan mandiri dalam ekosistem industri nasional," ujar Menperin di Jakarta, Senin (2/2).

Sejalan dengan komitmen tersebut, Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) berkolaborasi dengan startup Top Loker (TopLoker.com) menyelenggarakan kegiatan Pengembangan Inklusi Sektor Manufaktur untuk Disabilitas di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Semarang pada 28 Januari 2026.

Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita mengungkapkan, kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi nyata antara pemerintah dan dunia usaha dalam memperluas akses kerja inklusif bagi penyandang disabilitas di sektor industri strategis. 

"Kami bersama startup Top Loker menginisiasi kegiatan ini sebagai wadah yang membuka kesempatan dan peluang bagi teman-teman disabilitas untuk dapat berkarya dan berpartisipasi di sektor industri," jelas Reni.

Hingga Agustus 2025, Kemenperin mencatat jumlah tenaga kerja di sektor manufaktur mencapai 20,26 juta orang, atau sekitar 13,83 persen dari total tenaga kerja nasional. Dengan prinsip inklusivitas, sektor manufaktur diharapkan dapat melibatkan peran yang lebih besar dari tenaga kerja penyandang disabilitas.

Hadapi tantangan

Namun demikian, Reni menjelaskan bahwa akses penyandang disabilitas ke sektor manufaktur masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain keterbatasan akses informasi pekerjaan, kesenjangan kompetensi dengan kebutuhan industri, minimnya jejaring kemitraan formal, serta lingkungan kerja yang belum sepenuhnya inklusif.

Kegiatan ini dilaksanakan untuk meningkatkan serapan tenaga kerja penyandang disabilitas di sektor industri sekaligus membuka akses kerja sama antara Sekolah Luar Biasa dengan industri manufaktur, ujar Reni. Melalui kegiatan ini, peserta didik disabilitas tingkat SMA/sederajat dapat memahami kebutuhan kompetensi industri sehingga mampu menyesuaikan diri dengan standar dan ekspektasi dunia kerja.

Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan membangun jejaring kemitraan berkelanjutan antara satuan pendidikan disabilitas, peserta didik, dan dunia usaha, khususnya sektor industri manufaktur.

Sebanyak 45 siswa disabilitas kelas XII SLB dari delapan kabupaten/kota di Jawa Tengah berkesempatan bertemu langsung dengan 24 perusahaan manufaktur dari sektor industri agro, elektronik, tekstil dan produk tekstil, serta industri aneka di wilayah Jawa Tengah.

Perusahaan manufaktur akan berdiskusi langsung dan menjalin komunikasi berkelanjutan dengan kelompok disabilitas yang didampingi oleh SLB Negeri Semarang dan Top Loker, tambah Reni.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...

KPK Berharap Nusron Wahid Kooperatif

35 menit yang lalu | Ones

Nasional
KPK Berharap Nusron Wahid K...

Capaian realisasi investasi nasional

43 menit yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Capaian realisasi investasi...

Dua tahun pemerintahan Prabowo

43 menit yang lalu | Fajar Alim M

Nasional
Dua tahun pemerintahan Prabowo
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.