Meski Defisit Diperlebar, Purbaya Klaim Sentimen Pasar Tak Goyah
📅 Jumat, 30 Jan 2026, 19:20 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/ Imamatu
JAKARTA – Pelebaran defisit APBN 2025 mencerminkan meningkatnya tekanan fiskal di tengah kebutuhan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sosial.
Kebijakan ini menunjukkan peran APBN sebagai instrumen countercyclical, di mana pemerintah memperluas belanja untuk menopang daya beli, melanjutkan program prioritas, serta meredam dampak ketidakpastian global.
Namun di sisi lain, defisit yang melebar juga menuntut pengelolaan pembiayaan yang lebih hati-hati agar tidak memicu risiko keberlanjutan fiskal, tekanan terhadap imbal hasil surat utang negara, maupun persepsi pasar terhadap disiplin anggaran jangka menengah.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 yang mendekati ambang batas 3 persen tidak memengaruhi sentimen pasar saham.
“Nggak ada (pengaruh). Kan masih di bawah 3 persen,” kata Purbaya kepada wartawan di Jakarta, Jumat (30/1).
Sebaiknya Anda baca juga:
Berdasarkan realisasi sementara APBN 2025, defisit fiskal tercatat sebesar Rp695,1 triliun atau 2,92 persen dari produk domestik bruto (PDB) per 31 Desember 2025.
Realisasi defisit itu melebar dari target awal 2,53 persen pada APBN 2025 dan proyeksi laporan semester sebesar 2,78 persen, dan hampir menyentuh ambang batas defisit yang ditetapkan oleh undang-undang sebesar 3 persen.
Namun, menurut Purbaya, kinerja itu justru menunjukkan bahwa Indonesia mampu melakukan kebijakan countercyclical tanpa melanggar batas dengan kehati-hatian fiskal.
Sebaiknya Anda baca juga:
Terlebih, perekonomian nasional mengalami gejolak yang cukup dinamis sepanjang 2025.
Menkeu pun menyebut langkah mitigasi Pemerintah Indonesia dalam mengelola fiskal mendapat apresiasi positif dari Bank Dunia.
“Saya bilang ekonomi kita masuk triwulan III 2025 itu memburuk sekali. Saya mesti balik arah ekonomi, harus memberikan stimulus dari segala arah yang saya bisa. Dan itu sudah saya lakukan tanpa melanggar prudensi dari pengolahan kebijakan fiskal,” ujar Purbaya.
Pasar modal Indonesia mengalami tekanan dalam beberapa waktu belakangan.
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan (trading halt) pada Rabu (28/1) pukul 13.43 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS), setelah penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai 8 persen.
BEI kembali melakukan trading halt pada Kamis (29/1) pukul 09.26 WIB dalam sistem JATS setelah IHSG turun hingga 8 persen. Saat itu, indeks melemah 665,89 poin atau 8,00 persen ke level 7.654,66. Perdagangan kemudian dilanjutkan kembali pada pukul 09.56 WIB tanpa perubahan jadwal sesi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!