BI Diminta Lebih Fokus Jaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah
📅 Kamis, 22 Jan 2026, 01:45 WIB | Oleh: Tim Redaksi“Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan melalui penguatan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang bersinergi erat dengan kebijakan stimulus fiskal dan sektor riil Pemerintah untuk mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi dan berdaya tahan,” kata Perry.
Adapun pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025 diperkirakan lebih tinggi ditopang oleh kenaikan permintaan domestik sejalan dengan membaiknya keyakinan pelaku ekonomi dan peningkatan stimulus fiskal.
Secara spasial, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tercatat di wilayah Bali-Nusa Tenggara (Balinusra), diikuti Jawa dan Kalimantan didorong kenaikan permintaan domestik.
“Pertumbuhan ekonomi keseluruhan tahun 2025 diperakirakan berada di kisaran 4,7-5,5 persen,” kata Perry.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dari global, Perry menjelaskan bahwa perekonomian dunia masih dalam tren melambat dengan ketidakpastian yang meningkat. Pertumbuhan ekonomi dunia 2026 diperkirakan sedikit lebih rendah menjadi sebesar 3,2 persen dibandingkan dengan capaian 2025 sebesar 3,3 persen.
Pertumbuhan yang lebih rendah tersebut terutama dipengaruhi oleh dampak lanjutan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) dan kerentanan rantai pasok global, meskipun prospek perekonomian AS membaik didorong investasi sektor teknologi termasuk artificial intelligence (AI) dan stimulus fiskal pengurangan pajak.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Jepang, Tiongkok, dan India pada 2026 diperkirakan melambat akibat pelemahan permintaan domestik dan ekspor di tengah investasi AI yang juga meningkat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dari pasar keuangan global, ruang penurunan Fed Funds Rate (FFR) berkurang dan disertai masih tingginya yield UST (US Treasury/obligasi pemerintah AS) sejalan defisit fiskal AS yang masih besar.
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Aloysius Gunadi Brata, menilai proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 yang disampaikan Gubernur BI Perry Warjiyo dalam kisaran 4,9–5,7 persen memuat pesan penting mengenai relasi kebijakan fiskal dan moneter.
Menurutnya, proyeksi tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan parkiraan pertumbuhan ekonomi 2025 dan secara eksplisit memberi apresiasi pada peran kebijakan pemerintah serta bauran kebijakan Bank Indonesia.
Aloysius menilai pernyataan Perry dapat dibaca sebagai sinyal kuat dukungan otoritas moneter terhadap keberlanjutan kebijakan fiskal pemerintah pada 2026. “Ini semacam sinyal bahwa otoritas moneter mendukung pemerintah untuk melanjutkan kebijakan fiskalnya, dan BI akan memperkuatnya dengan bauran kebijakan moneter,” ujar Aloysius.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!