Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Apakah AI Benar-Benar Mengetahui Apa Pun?

📅 Rabu, 21 Jan 2026, 06:37 WIB | Oleh:
Apakah AI Benar-Benar Mengetahui Apa Pun? Doc: Kirill KUDRYAVTSEV / AFP
Ket. Foto yang diambil pada 2 Januari 2025 menunjukkan huruf AI untuk Kecerdasan Buatan pada layar laptop (R) di samping logo aplikasi Chat AI pada layar ponsel pintar di Frankfurt am Main, Jerman bagian barat.

KECERDASAN buatan kerap digambarkan dengan bahasa yang dipinjam dari cara manusia berpikir. Pilihan kata ini, tanpa disadari, dapat membentuk persepsi keliru tentang kemampuan AI. Sebuah studi terbaru menganalisis penulisan berita skala besar untuk melihat bagaimana bahasa mental muncul dalam diskusi tentang kecerdasan buatan.

Kata kerja seperti berpikir, mengetahui, memahami, dan mengingat lazim digunakan untuk menjelaskan proses mental manusia. Namun, ketika istilah yang sama dilekatkan pada AI, sistem komputer bisa tampak lebih manusiawi daripada kenyataannya.

“Kita menggunakan kata kerja mental setiap hari, jadi wajar jika kita juga memakainya saat membahas mesin. Itu membantu kita berhubungan dengan teknologi,” kata Jo Mackiewicz, profesor Bahasa Inggris di Iowa State. “Namun, ada risiko mengaburkan batas antara kemampuan manusia dan AI,” tambahnya.

Mackiewicz bersama Jeanine Aune meneliti penggunaan bahasa antropomorfis dalam pemberitaan AI. Studi yang terbit di Technical Communication Quarterly ini juga melibatkan Matthew J. Baker dan Jordan Smith.

Menurut para peneliti, kata kerja mental dapat menyesatkan karena menyiratkan pengalaman batin, seperti kesadaran atau niat, yang sebenarnya tidak dimiliki AI. Sistem AI bekerja dengan mengenali pola data, bukan dengan perasaan atau kehendak.

Bahasa seperti “AI memutuskan” atau “ChatGPT tahu” juga berpotensi melebih-lebihkan kecerdasan dan kemandirian AI, sehingga memengaruhi ekspektasi publik terhadap keamanan dan keandalannya. Selain itu, cara ini dapat mengalihkan perhatian dari peran manusia sebagai pihak yang merancang, melatih, dan mengawasi sistem tersebut.

Untuk mengukur sejauh mana fenomena ini terjadi, peneliti menganalisis korpus News on the Web yang mencakup lebih dari 20 miliar kata. Hasilnya menunjukkan bahwa istilah AI dan ChatGPT relatif jarang dipasangkan dengan kata kerja mental dalam artikel berita. Temuan ini sejalan dengan pedoman Associated Press yang menganjurkan kehati-hatian dalam mengaitkan emosi atau kemampuan manusia dengan AI.

Penelitian juga menemukan bahwa antropomorfisasi tidak selalu bersifat mutlak, melainkan berada dalam spektrum. Beberapa frasa, seperti “AI perlu memahami dunia nyata,” cenderung menyiratkan kualitas manusiawi, sementara penggunaan lain bersifat teknis dan netral.

Secara keseluruhan, studi ini menunjukkan bahwa antropomorfisasi AI dalam pemberitaan lebih jarang dan lebih bernuansa daripada yang sering diasumsikan. Para peneliti menekankan pentingnya konteks dan pilihan kata, karena bahasa membentuk cara publik memahami teknologi AI dan tanggung jawab manusia di baliknya. hay

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Sejahterakan Petani lewat Percepatan Hilirisasi Pangan
    Preview komentar:
    Langkah strategis pemerintah dalam mendorong percepatan hilirisasi pangan ...
  • BNI Perkuat Tata Kelola SDM lewat LSP dan Sertifikasi ISO
    Preview komentar:
    Langkah strategis BNI dalam mengintegrasikan lisensi resmi dari ...
  • RAPBN 2027 di Depan Mata, Investor Menanti Jawaban Pemerintah soal Arah Ekonomi Indonesia
    Preview komentar:
    Sejalan dengan kehati-hatian fiskal yang disepakati Banggar DPR ...
Nasional
Rangkaian Upacara HUT ke-81...
Ekonomi
Mendag: Empat Miliar Produk...
Mulai September, Spotify Munculkan Lencana “AI Persona” untuk Tandai Identitas Artis Berbasis AI

Mulai September, Spotify Munculkan Lencana “AI Persona” untuk Tandai Identitas Artis Berbasis AI

14 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.