Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Rekor Indeks Tertinggi Bukan Cermin Kekuatan Ekonomi Secara Umum

📅 Selasa, 20 Jan 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi

“Rekor indeks seharusnya menjadi momentum evaluasi, bukan perayaan berlebihan,” kata Achmad. Ia menegaskan bahwa tantangan utama pemerintah dan otoritas ekonomi saat ini adalah memastikan bahwa optimisme pasar keuangan dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas.

Lebih Spekulatif

Pada kesempatan berbeda, Manajer Riset Seknas Fitra Badiul Hadi menerangkan, kenaikan IHSG yang mencapai rekor tertinggi baru ATH memang mencerminkan sentimen positif di pasar modal Indonesia. Namun, jika dilihat lebih dalam, pencapaian tersebut tidak selalu mencerminkan kesehatan ekonomi secara menyeluruh.

“Kenaikan indeks saham bisa dipengaruhi oleh likuiditas pasar, aliran modal asing, dan ekspektasi investor, yang terkadang lebih bersifat spekulatif ketimbang mencerminkan fundamental ekonomi domestik,” kata Badiul.

Kondisi riil saat ini menunjukkan gambaran yang lebih kompleks. Rupiah mengalami pelemahan di level sekitar 16.922 rupiah per dollar AS, yang menandakan tekanan pada nilai tukar. Pertumbuhan ekonomi tercatat sekitar 5 persen, relatif stabil, tetapi masih menghadapi tantangan dari sisi pengangguran yang tinggi dan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.

“Hal ini menunjukkan bahwa meski IHSG menguat, sektor riil terutama konsumsi dan tenaga kerja belum sepenuhnya mencerminkan optimisme pasar saham,”ungkap Badiul.

Kinerja indeks saham merupakan hasil interaksi kompleks antara investor, emiten, dan faktor global, sehingga menautkan pencapaian ATH secara langsung kepada kebijakan satu individu dalam hal ini Menkeu berpotensi menyederhanakan dinamika pasar yang sebenarnya multifaktorial.

“Saya melihat, kenaikan IHSG memang menjadi berita positif bagi investor dan citra pasar modal Indonesia, tetapi perlu diimbangi dengan pemahaman fundamental ekonomi yang lebih luas, termasuk kondisi nilai tukar, pengangguran, daya beli masyarakat, dan stabilitas sektor riil,” katanya. Tanpa konteks itu, optimisme pasar saham bisa memberikan sinyal yang menyesatkan mengenai kesehatan ekonomi secara keseluruhan,”ungkap Badiul.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Daerah
KAI: Kunjungan Wisatawan La...
Nasional
Bapanas akan Mobilisasi Sto...
Advertisement
11 Event Jakarta September 2026 Wajib Masuk List, Ada Festival Dessert hingga Konser Musik

11 Event Jakarta September 2026 Wajib Masuk List, Ada Festival Dessert hingga Konser Musik

11 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.