Pelajaran dari Kesalahan Teknik Rekayasa Genetika
📅 Kamis, 15 Jan 2026, 06:41 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Foto: Pairwise
CRISPR telah membantu mempercepat tidak hanya peningkatan pada tanaman tetapi juga jalur mereka ke pasar. Steven Runo, seorang ahli biologi molekuler di Laboratorium Transformasi Tanaman di Universitas Kenyatta di Kenya, sedang berupaya membuat sorgum, biji-bijian kuno, tahan terhadap gulma parasit Striga.
Bagaimana tanaman generasi berikutnya dapat menghindari kesalahan yang menimpa pendahulunya? Runo awalnya menggunakan teknik hasil rekayasa genetika, atau Genetically modified crops (GMO) tradisional, tetapi sekarang ia menggunakan CRISPR untuk menciptakan kembali mutasi yang terjadi secara alami.
“Sorgum yang diedit CRISPR tidak diperlakukan sebagai GMO,” katanya. “Artinya, jalur menuju rilis dan komersialisasi sangat, sangat singkat,” ungkap Shukla dalam sesi tentang makanan hasil pengeditan CRISPR di South by Southwest di Austin, Texas, dikutip dari laman Science Alliance.
Seiring dengan semakin meluasnya penggunaan CRISPR di bidang pertanian, para ilmuwan mengatakan penting untuk mengambil pelajaran dari apa yang salah dengan GMO. Saat iti ketika GMO pertama kali masuk ke pasar, hanya sedikit informasi publik tentang bagaimana cara pembuatannya, kata Paul Chavarriaga, yang memimpin Platform Pengeditan Gen di Aliansi Biodiversity International & CIAT dikutip dari Alliance for Science.
Hal ini menyebabkan ketakutan dan informasi yang salah, yang merupakan hambatan utama bagi penggunaannya di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Itu termasuk menyoroti bagaimana masyarakat biasa, “bukan hanya industri besar,” dapat memperoleh manfaat dari peningkatan tanaman ini.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di luar mendapatkan penerimaan publik untuk makanan yang diedit CRISPR, tantangan lain tetap ada. Salah satunya adalah hambatan regulasi. Awal tahun ini, parlemen Eropa memberikan suara untuk melonggarkan regulasi tanaman hasil rekayasa genetika, sebuah kemenangan besar bagi bioteknologi di wilayah yang telah sangat mengatur GMO.
Namun, regulasi sangat berbeda di berbagai negara dan wilayah. Misalnya, varietas sorgum hasil rekayasa CRISPR tidak diperlakukan sebagai GMO di Kenya, tetapi diperlakukan sebagai GMO di negara tetangganya, Uganda.
Hambatan lain adalah kurangnya kapasitas untuk pengeditan gen di banyak negara berpenghasilan rendah yang dapat memperoleh manfaat dari teknologi ini, yang Yayasan Gates mencoba mengatasinya dengan mendukung program-program seperti GET-UP.
Sebaiknya Anda baca juga:
Klaim dan sengketa kekayaan intelektual terkait teknologi CRISPR juga ada. Sejumlah perusahaan sedang berupaya meningkatkan teknologi pengeditan gen CRISPR sebagai alat untuk peningkatan tanaman dan mematenkan alat-alat tersebut.
Meskipun CRISPR sejauh ini tampaknya menghindari banyak kontroversi yang dihadapi GMO, CRISPR adalah salah satu dari berbagai alat yang akan dibutuhkan untuk sistem pangan yang tertekan oleh perubahan iklim. hay
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!