Tanah Aluvial dan Hujan Lebat Memicu Tanah Ambles di Blora
📅 Minggu, 04 Jan 2026, 23:19 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara
Blora - Fenomena tanah ambles di Kecamatan Banjarejo dan Tunjungan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah disebabkan kondisi tanah yang jenuh air akibat hujan berintensitas tinggi, kata Pelaksana Tugas Kepala Cabang Dinas ESDM Wilayah Kendeng Selatan Blora Hadi Susanto.
"Tanah aluvial di sekitar daerah aliran sungai (DAS) memang mudah jenuh air sehingga ketika hujan deras, air mengisi rekahan tanah, menambah beban, dan akhirnya memicu amblesan atau pergerakan tanah," ujarnya di Blora, Minggu.
Ia mengungkapkan secara geologi tidak ditemukan sesar aktif di wilayah terdampak.
Menurut dia, kejadian serupa banyak ditemukan di kecamatan di sekitar aliran sungai. Pergerakan tanah juga cenderung lebih terlihat pada musim hujan dibandingkan dengan musim kemarau.
Terkait dugaan penyebab lain, seperti pengeboran air tanah, ia menilai, dampaknya kecil dan tidak signifikan. Kalau pun ada pengaruh, hal tersebut biasanya disebabkan eksploitasi yang berlebihan.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Hingga saat ini, tingkat pemanfaatan air tanah di Kabupaten Blora masih tergolong minim," ujarnya.
Ia mengatakan pemetaan potensi pergerakan tanah secara detail hingga kini belum tersedia.
Meski demikian, pihaknya membuka peluang apabila Pemerintah Kabupaten Blora melakukan kajian lanjutan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ke depan, penanganan akan dikoordinasikan lintas sektor bersama Dinas PUPR, Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA), serta Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, mengingat wilayah DAS berada dalam kewenangan instansi terkait.
Masyarakat diimbau segera melaporkan apabila terjadi tanah ambles yang berpotensi membahayakan agar dapat ditindaklanjuti secara terpadu.
Anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Blora Agung Triyono mengatakan pergerakan tanah telah berdampak pada sejumlah rumah warga. Di Kecamatan Banjarejo terdapat tiga rumah terdampak, sedangkan di Kecamatan Tunjungan dua rumah mengalami kerusakan.
"Wilayah terdampak meliputi Desa Buluroto dan Desa Tutup," ujarnya.
Ia menjelaskan di Kecamatan Tunjungan pergerakan tanah terjadi di Dukuh Ngetrep, Desa Tutup pada Jumat (2/1). Peristiwa tersebut menyebabkan penurunan tanah sedalam 15 hingga 30 sentimeter dengan panjang rekahan sekitar 100 meter.
"Dua rumah warga mengalami rusak sedang dan tiga rumah lainnya terancam. Dua rumah rusak sedang masing-masing milik Djaiz dan Suyatno dengan total estimasi kerugian mencapai Rp16 juta," ujarnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!