INDEF: Risiko Inflasi 2026 Naik, Moneter Perlu Menyasar Sektor Riil
📅 Senin, 29 Des 2025, 21:58 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/Imamatul Silfia
JAKARTA – Indef merekomendasikan agar kebijakan moneter diarahkan lebih akomodatif untuk mendorong sektor riil, seiring meningkatnya risiko inflasi pada awal 2026.
Pendekatan ini dinilai penting untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan momentum pertumbuhan, agar tekanan inflasi tidak justru menghambat pemulihan dan aktivitas ekonomi produktif.
“Menurut kami, inflasi tahun depan cukup berisiko, terutama pada triwulan I dan II, sehingga kami berharap instrumen moneter juga punya peran kepada sektor riil, khususnya kalau yang mau disasar adalah inflasi pangan,” kata Direktur Pengembangan Big Data Indef Eko Listiyanto dalam Diskusi Publik Indef di Jakarta, Senin (29/12).
Sebagai refleksi, kata dia, inflasi pada November 2025 masih terjaga dalam rentang target Bank Indonesia (BI), dengan realisasi 2,72 persen (year-on-year/yoy) pada rentang target 2,5 plus minus 1 persen.
Namun, ia mencermati tren inflasi sepanjang 2025 cenderung menunjukkan peningkatan, dengan catatan historis 0,76 persen (yoy) pada Januari hingga 2,72 persen (yoy) pada November 2025.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tren tersebut berbeda dengan catatan 2024 yang cenderung menurun, dari 2,57 persen (yoy) pada Januari hingga 1,57 persen pada Desember 2024.
Melihat tren tersebut, Indef memperkirakan inflasi akan melampaui level 3 persen pada 2026.
Bila ditinjau dari sisi kebijakan moneter, Eko berpendapat ruang untuk menurunkan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI) makin menyempit. Sementara dari sisi fiskal, suku bunga diharapkan dapat turun lebih rendah.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Tapi dari sisi stabilitas, dengan tren inflasi yang naik dari awal tahun sampai saat ini, menggambarkan tahun depan tren akan berlanjut,” ujar Eko.
Selain itu, tambah dia, ada faktor musiman yang bisa mendorong inflasi, terutama terkait pangan. Memasuki awal tahun, curah hujan yang tinggi dapat memengaruhi pasokan dan distribusi.
Sedangkan pada kuartal I-2026 terdapat momentum lebaran yang biasanya menaikkan kebutuhan pangan.
“Sehingga kecenderungan inflasi akan naik itu harus diatasi. Itu juga sekaligus merefleksikan bahwa agak sulit sepertinya suku bunga akan turun lebih jauh lagi di 2026, khususnya triwulan I dan II, karena situasi inflasinya seperti ini,” tutur dia.
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) memandang, inflasi November 2025 yang tetap terjaga dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi pengendalian inflasi antara bank sentral dan pemerintah pusat maupun daerah.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya di Jakarta, Senin (1/12), menyampaikan bahwa ke depan, BI meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen pada 2025 dan 2026.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!