Australia Selidiki Dinas Keamanan Usai Serangan di Bondi Beach
📅 Senin, 22 Des 2025, 02:50 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: AFP/GEORGE CHAN
SYDNEY – Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, telah memerintahkan peninjauan terhadap kepolisian dan dinas intelijen setelah dua pria bersenjata melakukan penembakan massal dan membunuh 15 orang di sebuah festival Yahudi di Bondi Beach sepekan lalu.
Seorang ayah dan putranya dituduh telah memberondongkan peluru ke arah perayaan Hanukkah yang dipenuhi keluarga di pantai paling terkenal di Sydney pada 14 Desember dan mereka diduga terinspirasi oleh ideologi ISIS.
Pada Minggu (21/12), PM Albanese mengatakan bahwa pemerintahnya akan memeriksa apakah kepolisian dan badan intelijen memiliki wewenang, struktur, dan pengaturan berbagi informasi untuk menjaga keamanan warga Australia.
“Kekejaman yang terinspirasi ISIS sepekan lalu memperkuat perubahan cepat dalam lingkungan keamanan di negara kita,” kata dia. “Lembaga keamanan kita harus berada dalam posisi terbaik untuk merespons,” imbuh dia
Terduga pelaku penembakan, Sajid Akram, 50 tahun, ditembak mati oleh polisi selama serangan di Bondi Beach. Warga negara India ini memasuki Australia dengan visa pada tahun 1998. Putranya yang berusia 24 tahun, Naveed, seorang warga negara kelahiran Australia, masih dirawat di rumah sakit di bawah pengawasan polisi dan menghadapi berbagai tuduhan, termasuk terorisme dan 15 pembunuhan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Naveed pernah diselidiki oleh Organisasi Intelijen Keamanan Australia pada 2019 karena kemungkinan radikalisasi, tetapi pada saat itu dinyatakan tidak menimbulkan ancaman, menurut pihak berwenang Australia.
Ayahnya juga diinterogasi oleh dinas intelijen sebagai bagian dari penyelidikan itu, tetapi ia berhasil mendapatkan izin kepemilikan senjata api yang memperbolehkannya memiliki enam senjata api.
Beberapa pekan sebelum serangan di Bondi Beach, keduanya kembali ke Sydney dari perjalanan empat pekan ke Filipina selatan yang sekarang sedang diselidiki oleh detektif di sana dan di Australia.
Sebaiknya Anda baca juga:
PM Albanese mengatakan ada masalah nyata dengan dinas intelijen Australia sehubungan dengan serangan tersebut.
“Kita perlu meneliti secara detail bagaimana sistem tersebut bekerja. Kita perlu melihat kembali apa yang terjadi pada tahun 2019 ketika orang ini diperiksa, penilaian yang dilakukan,” kata dia kepada stasiun televisi nasional ABC.
Radikalisasi
Dalam sesi wawancara terpisah, ketika ia ditanya mengenai terduga pelaku penembakan tersebut pernah menginap di hotel di Pulau Mindanao, Filipina selatan, Albanese mengatakan bahwa radikalisasi mereka sedang diselidiki.
“Namun, perlu juga dicatat bahwa mereka tidak dianggap sebagai orang yang dicurigai, dan itulah mengapa peristiwa ini sangat mengejutkan,” kata dia.
Menurut Dr Clarke Jones, seorang kriminolog dari Universitas Nasional Australia, bahwa sangat sangat biasa jika seorang ayah dan anak laki-laki menjadi tersangka pelaku. Dr Jones, yang pernah bekerja dengan pelaku kekerasan di Filipina, juga mengatakan bahwa radikalisasi para terduga pelaku penembakan tersebut tampaknya telah luput dari pengawasan selama bertahun-tahun oleh penyelidikan intelijen Australia. AFP/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!