Bantuan Harus Legal: Purbaya Redam Kabar Balpres Sitaan untuk Sumatera
📅 Jumat, 12 Des 2025, 14:20 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/ Aditya Pradana Putra
JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menampik isu bahwa balpres ilegal hasil sitaan akan dikirimkan untuk korban bencana di Sumatera. Ia menegaskan bahwa bantuan bagi warga harus jelas asal-usulnya dan tidak boleh berasal dari barang sitaan yang status hukumnya belum tuntas.
Menurutnya, pemerintah punya mekanisme resmi untuk penyaluran bantuan, jadi kabar tersebut hanya membuat simpang-siur di tengah situasi yang sudah cukup sensitif. Dengan klarifikasi ini, ia berharap publik tetap tenang dan tidak terjebak informasi yang menyesatkan.
Saat dikonfirmasi di Tanjung Priok Jakarta, Jumat (12/12), Purbaya mengatakan akan menjaga pengelolaan barang ilegal sesuai dengan aturan yang ada.
“Jangan sampai nanti gara-gara itu, banyak lagi balpres masuk dengan alasan kan bagus buat bencana,” kata Purbaya.
Dia menambahkan bila memang pihaknya ingin mengirim bantuan kepada korban bencana, Menkeu lebih memilih untuk menggelontorkan anggaran baru guna menyiapkan barang yang lebih layak pakai bagi korban.
Sebaiknya Anda baca juga:
Barang-barang itu pun akan dibeli melalui usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dalam negeri.
“Lebih baik kita beli barang-barang dalam negeri produk UMKM, dikirim ke bencana yang (barang) baru. Saya lebih baik mengeluarkan uang ke situ kalau terpaksa, dibanding pakai barang-barang balpres itu,” tuturnya.
Sebelumnya, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan membuka peluang menyalurkan sitaan baju ilegal untuk korban bencana Sumatera, menyusul penindakan terhadap kontainer dan truk bermuatan produk garmen atau balpres ilegal.
Sebaiknya Anda baca juga:
Direktur Komunikasi dan Bimbingan Pengguna Jasa DJBC Nirwala Dwi Heryanto saat ditemui di Jakarta, Kamis (11/12), menjelaskan barang hasil tindakan secara otomatis menjadi barang milik negara. Namun, opsi tidak lanjut penanganan barang ilegal bukan hanya dimusnahkan.
“Dihancurkan itu sebetulnya salah satu (opsi). Kalau barang melanggar, tentunya akan menjadi barang milik negara. Itu bisa dimusnahkan atau untuk tujuan lain,” ujarnya.
Secara umum, terdapat tiga opsi tindak lanjut terhadap barang ilegal, yakni dimusnahkan, dihibahkan untuk tujuan tertentu, dan dilelang.
Mengingat upaya pemulihan bencana di Sumatera masih berlanjut, Bea Cukai mempertimbangkan untuk mengambil opsi hibah atas barang ilegal yang disita.
“Siapa tahu saudara-saudara kita bisa memanfaatkan dan menggunakan. Sementara yang di Aceh membutuhkan,” tambahnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!