Pasar Global Makin Ketat, Wamendag Desak Produsen RI Beralih ke Produk Hijau!
📅 Rabu, 03 Des 2025, 21:20 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/ Fikri Yusuf.
JAKARTA – Produk yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan kini menjadi kebutuhan strategis, bukan sekadar tren. Konsumen global semakin menuntut transparansi rantai pasok, efisiensi sumber daya, dan penggunaan material yang rendah emisi.
Bagi pelaku usaha, pergeseran ini menandai perubahan lanskap kompetisi: perusahaan yang mampu mengadopsi praktik hijau cenderung memperoleh keunggulan reputasi, akses pasar lebih luas, serta insentif dari regulasi yang semakin ketat.
Selain itu, keberlanjutan membantu menekan biaya jangka panjang melalui efisiensi energi dan pengurangan limbah.
Dalam konteks ekonomi modern—yang semakin terhubung dan sensitif terhadap isu iklim—ketersediaan produk ramah lingkungan bukan hanya memperkuat daya saing, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam membangun pertumbuhan ekonomi yang resilien dan bertanggung jawab.
Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti mendorong para pelaku usaha di Tanah Air menghasilkan produk, yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan agar semakin diterima pasar global. Menurut dia, dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (3/12), saat ini produk-produk berkelanjutan telah menjadi tren global.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Saya melihat negara di kawasan Eropa dan Amerika saat ini telah mulai memiliki minat pada produk-produk yang sustainable atau lebih ramah lingkungan. Oleh karena itu, saya rasa para pelaku usaha dan industri di tanah air dapat lebih lagi memperhatikan aspek hijau dari produksi dan keberlanjutan dari bahan baku mereka," kata Wamendag Roro Esti saat acara talkshow bertajuk "Aksi Nyata untuk Bumi Lestari" di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta.
Ketua Bidang Lingkungan Hidup DPP Golkar itu menambahkan dalam upaya menciptakan masa depan yang berkelanjutan dibutuhkan kolaborasi lintas sektor.
Pada periode Januari-Oktober 2025, Indonesia meraih surplus perdagangan internasional cukup signifikan yakni sebesar 33,5 miliar dolar AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam kesempatan yang sama, Menteri ESDM, yang juga Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia mengungkapkan kegiatan usaha di sektor pertambangan dan perkebunan bersinggungan dengan lingkungan hidup.
Oleh karenanya, ketika mendapat mandat menjadi Menteri ESDM, Bahlil menjadikan isu lingkungan ini sebagai input konstruktif dalam pembuatan kebijakan dan tata kelola terkait analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) yang diarahkan bagi pelestarian dan keberlangsungan lingkungan hidup.
Sementara, Wakil Menteri ESDM Yuliot memaparkan kontribusi nyata sektor energi dalam mendukung keberlanjutan lingkungan hidup salah satunya adalah pengembangan roadmap infrastruktur ketenagalistrikan nasional yang berkapasitas 69,5 GW dan bersumber dari energi baru terbarukan (EBT) yang masuk dalam RUPTL PLN 2025-2034.
Wamen Yuliot menambahkan roadmap tersebut memperhitungkan sebaran potensi EBT di masing-masing kawasan di Indonesia dan juga memperhitungkan jaringan transmisi sepanjang 47.768 kilometer sirkuit.
Yuliot juga menyoroti meningkatnya intensitas bencana hidrometeorologi seperti banjir hingga longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
"Jadi, inilah yang perlu kita lakukan, bagaimana kita melakukan aksi nyata, itu sesuai dengan topik kita hari ini untuk bumi yang lebih lestari. Jadi kegiatan-kegiatan ini akan memberikan dampak, aksi nyata," ujar Yuliot.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!