BI Akui Kredit Loyo: Dunia Usaha Masih Tahan Rem?
📅 Rabu, 19 Nov 2025, 21:35 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara.
JAKARTA – Pelambatan pertumbuhan kredit mencerminkan melemahnya permintaan pembiayaan di sektor riil, yang dapat menjadi sinyal kehati-hatian pelaku usaha maupun rumah tangga terhadap prospek ekonomi ke depan.
Kondisi ini biasanya dipicu kombinasi faktor seperti suku bunga tinggi, risiko global yang meningkat, serta preferensi perbankan yang lebih konservatif dalam menyalurkan pinjaman.
Jika berlangsung berkepanjangan, perlambatan kredit berpotensi menekan ekspansi usaha, menghambat penyerapan tenaga kerja, dan memperlambat pemulihan ekonomi.
Karena itu, stimulus terarah, baik lewat penurunan biaya dana, penjaminan kredit, maupun percepatan belanja pemerintah, menjadi kunci untuk kembali menggerakkan permintaan kredit secara sehat dan berkelanjutan.
Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan kredit perbankan pada Oktober 2025 melambat, dengan permintaan kredit yang masih belum kuat karena pelaku usaha menahan ekspansi, mengoptimalkan pembiayaan internal, dan menghadapi suku bunga kredit yang tinggi.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kredit perbankan pada Oktober 2025 tercatat sebesar 7,36 persen year on year (yoy), melambat dari 7,70 persen (yoy) pada bulan sebelumnya,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil RDG BI bulan November 2025, di Jakarta, Rabu (19/11).
BI juga mencatat fasilitas pinjaman yang belum dicairkan (undisbursed loan) pada Oktober 2025 masih cukup besar, yaitu mencapai Rp2.450,7 triliun atau 22,97 persen dari plafon kredit yang tersedia.
Sementara dari sisi penawaran, kapasitas pembiayaan bank tercatat memadai ditopang oleh rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) yang meningkat menjadi sebesar 29,47 persen dan DPK yang tumbuh sebesar 11,48 persen (yoy) pada Oktober 2025.
Sebaiknya Anda baca juga:
Perkembangan tersebut didorong ekspansi keuangan Pemerintah termasuk penempatan dana Pemerintah pada beberapa bank besar, serta kebijakan pelonggaran likuiditas dan insentif kebijakan makroprudensial BI.
Perry mengatakan, minat penyaluran kredit perbankan pada umumnya juga cukup baik yang tercermin pada persyaratan pemberian kredit (lending requirement) yang semakin longgar.
Namun demikian, lending requirement segmen kredit konsumsi dan UMKM masih meningkat seiring dengan sikap kehati-hatian bank sejalan dengan tingginya risiko kredit pada kedua segmen tersebut.
Kondisi itu mempengaruhi pertumbuhan kredit UMKM Oktober 2025 yang turun menjadi sebesar -0,11 persen (yoy).
Untuk keseluruhan, BI memprakirakan pertumbuhan kredit 2025 berada pada batas bawah kisaran 8-11 persen dan akan meningkat pada 2026.
“Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan KSSK untuk mendorong pertumbuhan kredit/pembiayaan perbankan serta memperbaiki struktur suku bunga,” kata Perry.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!