Sawit Jadi Andalan Abadi RI: Airlangga Beberkan Surplus Dagang, Target B50, dan Akselerasi Energi Bersih
📅 Jumat, 14 Nov 2025, 16:30 WIB | Oleh: Paundra Zakirulloh
Doc: Reuters
JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto kembali menegaskan bahwa komoditas kelapa sawit tetap menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia serta bagian penting dari strategi energi bersih nasional. Ia menyebut industri ini terus memberikan kontribusi signifikan bagi ekspor sekaligus menjaga stabilitas pasar dalam negeri.
Airlangga menyampaikan bahwa hingga September 2025, neraca perdagangan Indonesia membukukan surplus sebesar 4,34 miliar dolar AS. Surplus tersebut didorong oleh ekspor sawit yang mencapai 28,55 juta ton dengan nilai sekitar 27 miliar dolar AS sepanjang periode tersebut.
"Industri sawit tetap menjadi pilar ekonomi Indonesia yang paling penting," ujar Airlangga.
Ia menekankan bahwa daya tahan ekonomi nasional turut ditopang sektor ini, terlihat dari pertumbuhan PDB kuartal ketiga yang mencapai 5,04 persen. Investasi berada di level Rp 1.434,3 triliun, sementara inflasi terjaga pada 2,86 persen sebagai bukti kestabilan kondisi fundamental.
India dan China masih menjadi pasar ekspor terbesar bagi produk sawit Indonesia. Namun, destinasi baru seperti Jepang dan Selandia Baru terus menunjukkan peningkatan permintaan yang berpotensi memperluas pasar sawit nasional.
Sebaiknya Anda baca juga:
Airlangga juga menyoroti kondisi domestik yang tetap kondusif, salah satunya harga tandan buah segar (TBS) yang berada mendekati Rp 3.000 per kilogram. Harga tersebut dinilai ikut menjaga kesejahteraan petani sekaligus stabilitas rantai pasok industri.
Pemerintah, kata Airlangga, tengah memperkuat implementasi skema Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).
"Pemerintah memperkuat sistem sertifikasi ISPO dan mengembangkan platform informasi ISPO untuk meningkatkan transparansi, pemantauan real-time, serta daya saing global," ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Upaya memperkuat sektor sawit tidak hanya berfokus pada ekspor, tetapi juga pengembangan energi bersih berbasis sawit. Program biodiesel B40 akan ditingkatkan menjadi B50 pada akhir 2026, dengan potensi penurunan emisi mencapai 41,46 juta ton CO₂e.
Pemerintah juga tengah mendorong pengembangan sustainable aviation fuel (SAF) berbahan dasar sawit. Bahan bakar pesawat ramah lingkungan ini ditargetkan dapat digunakan dalam kurun dua hingga tiga tahun mendatang sebagai bagian dari transisi energi sektor transportasi udara.
"Oleh karena itu, kami mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat hilirisasi sawit agar memberikan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan memperkuat industri nasional," kata Airlangga.
Sementara itu, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Rachmat Pambudy menilai ekspansi area perkebunan sawit yang melonjak dari 0,1 juta hektare pada 1950 menjadi 17 juta hektare saat ini harus dikelola dengan kebijakan yang hati-hati. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara keberlanjutan dan ketahanan pangan di tengah perkembangan pesat industri sawit.
Rachmat menilai sektor sawit memegang peran besar dalam visi Indonesia Emas 2045. Industri ini mendukung pengembangan energi terbarukan, memperkuat rantai hilirisasi, serta mendorong pembangunan desa dan pertumbuhan ekonomi daerah.
Ia menambahkan bahwa berbagai reformasi regulasi, penguatan ISPO, dan pemberdayaan pekebun kecil menjadi faktor penting dalam memastikan pertumbuhan sawit yang inklusif dan berkelanjutan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!