Enam Sektor Industri Dibanjiri Produk Impor
📅 Rabu, 12 Nov 2025, 01:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: antara
Kondisi ini berpotensi menghambat pertumbuhan industri nasional serta menurunkan utilisasi kapasitas pabrik di dalam negeri.
Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan bahwa enam sektor industri dalam negeri tengah menghadapi tekanan serius akibat membanjirnya produk impor
Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif mengatakan keenam sektor tersebut meliputi tekstil, baja, elektronik, kosmetik, keramik dan alas kaki. Masifnya produk impor membuat utilisasi dan produksi industri terkait menjadi tidak maksimal.
"Itu membuat industri di dalam negeri mau produksi banyak berpikir terlebih dahulu. Akhirnya menahan. Harusnya bisa produksi 100, produksi 60 dulu. Takutnya nanti tidak terserap pasar," ucapnya di Jakarta, Selasa (11/11).
Seperti dikutip dari Antara, Febri menyampaikan, dari enam sektor yang dibanjiri produk impor jadi, baru sektor tekstil yang memiliki aturan terkait pengaturan impor.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kemenperin, lanjut dia, mendukung upaya yang diambil oleh Kementerian Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang menyiapkan skema kemitraan antara pedagang pakaian bekas atau thrifting dan pelaku UMKM.
Untuk pasar domestik, kata Febri diprioritaskan agar menggunakan produk dalam negeri dan tidak menggunakan produk impor jadi.
"Membeli produk lokal itu artinya melindungi saudara-saudara kita yang bekerja pada industri itu," ucapnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebelumnya, Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menyatakan pihaknya tengah memperkuat perlindungan pasar dan menarik investasi baru industri baja guna memenuhi kebutuhan domestik yang saat ini 55 persen dipenuhi impor.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), hingga 2021, jumlah perusahaan yang terdaftar dengan Klasifikasi Baku Lapangan Indonesia (KBLI) 24 untuk logam dasar ada 562 perusahaan dan KBLI 25 barang logam, bukan mesin dan peralatannya, terdapat 1.592 perusahaan.
Wamenperin menyatakan saat ini terdapat perbedaan signifikan antara konsumsi baja dengan produksi nasional, dan perbedaan tersebut diisi oleh 55 persen impor yang mayoritas berasal dari Tiongkok.
Adapun untuk produksi baja, Indonesia menempati peringkat 14 dunia di tahun 2024 yaitu sebesar 18 juta ton, naik 110 persen dari 2019.
Turun Peringkat
Menanggapi hal itu, Komisi VII DPR menggelar rapat dengan mengundang Direktorat Jenderal Industri Agro Kemenperin bersama berbagai asosiasi pebisnis bidang agro guna mencari solusi permasalahan daya saing produk.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!