Ekonomi Tumbuh Tinggi Membutuhkan Kesinambungan Fiskal, Moneter dan Iklim Investasi
📅 Rabu, 12 Nov 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
Belum ada kebijakan padu untuk mendorong peningkatan kapasitas produktif dan efisiensi penggunaan sumber daya.
JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan dibutuh kesinambungan antara kebijakan fiskal, moneter, dan iklim investasi untuk mendorong perekonomian nasional bisa tumbuh tinggi sesuai target di level 8 persen. Dengan respons kebijakan yang tepat akan mampu menjaga stabilitas ekonomi.
Kondisi perekonomian pun tidak cukup dibaca dari pergerakan suku bunga saja, tetapi juga dari pertumbuhan uang beredar. “Dalam lebih dari 25 tahun saya mengamati ekonomi, kita bisa tumbuh di atas delapan persen dalam jangka panjang asalkan kebijakan fiskal, moneter, dan iklim investasi dijalankan dengan benar,” kata Purbaya saat menyampaikan Kuliah Umum di Universitas Airlangga Surabaya, Selasa (11/11).
Menkeu menilai konsistensi kebijakan serta kehati-hatian fiskal menjadi dasar penting bagi upaya mencapai target pertumbuhan pada tahun mendatang. Purbaya dalam pemaparannya menekankan pentingnya keseimbangan antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor privat atau swasta sebagai tiga mesin utama penggerak ekonomi nasional.
Ketiga elemen itu harus bergerak bersamaan agar pertumbuhan dapat berlangsung cepat dan stabil.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Ekonomi kita akan cepat kalau tiga mesin jalan, yakni fiskal, moneter, dan privat sektor. Jika dua itu jalan, tapi privat sektor tidak jalan, maka akan susah,” kata Purbaya.
Dia juga menambahkan bahwa penguatan permintaan domestik juga menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan ekonomi Indonesia, terutama dalam menghadapi tekanan global yang terus berulang.
Koordinasi Kebijakan
Sebaiknya Anda baca juga:
Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Brata, menilai bahwa target pertumbuhan ekonomi 8 persen seperti disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa hanya bisa tercapai jika kebijakan fiskal, moneter, dan iklim investasi berjalan secara terpadu dan saling mendukung.
Menurut Aloysius, pertumbuhan ekonomi yang sehat tidak mungkin lahir dari satu kebijakan tunggal. “Pembentukan modal penting, begitu pula manusia yang berkualitas. Namun semuanya harus dikombinasikan oleh satu kebijakan yang terkoordinasi secara cerdas,” ujarnya di Yogyakarta, Selasa (11/11).
Ia menegaskan bahwa koordinasi antarkebijakan merupakan kunci agar pertumbuhan ekonomi tidak sekadar tinggi, tetapi juga berkelanjutan.
Aloysius menyoroti bahwa persoalan utama ekonomi Indonesia adalah belum adanya kebijakan yang padu untuk mendorong peningkatan kapasitas produktif dan efisiensi penggunaan sumber daya.
“Kebijakan fiskal yang ekspansif sering kali tidak sejalan dengan kebijakan moneter yang kontraktif. Akibatnya, ekspansi fiskal menjadi sia-sia karena uang kembali terserap ke sistem moneter melalui suku bunga tinggi,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan adanya risiko ketika pemerintah menghadapi keterbatasan anggaran. Dalam kondisi penerimaan pajak yang rendah dan ambisi besar untuk menjalankan proyek-proyek strategis, langkah burden sharing antara otoritas fiskal dan moneter perlu dilakukan secara hati-hati.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!