Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Fenomena Alam: Saat Musim Dingin, Hewan Tidur Panjang dan Burung Cari Hangat di Selatan

📅 Sabtu, 08 Nov 2025, 14:00 WIB | Oleh: Tim Penulis

Triadede, salah satu peserta pengamatan burung migran menuturkan kegiatan itu dapat menjadi sarana edukasi dan rekreasi. Ia merasakan keseruan dalam mengamati burung yang sebelumnya tak pernah dilakukan seumur hidupnya.

Pria asal Jonggat, Lombok Tengah tersebut mengaku dapat lebih mengetahui jenis burung yang sedang diamati meski tidak mengetahui secara spesifik nama ilmiahnya.

Yayasan Paruh Bengkok Indonesia menyatakan wisata minat khusus pengamatan migrasi burung belum populer. Walau Indonesia dilewati jutaan burung migran setiap tahun, namun tidak ada daerah yang menjadikan migrasi burung sebagai objek wisata.

Penasihat Ilmiah Paruh Bengkok Indonesia Saleh Amin mengatakan ada beberapa lokasi pengamatan burung migran di Indonesia, seperti kawasan Puncak Bogor di Jawa Barat dan Gunung Seger di Bali. Potensi itu belum dilirik secara serius baik oleh pemerintah maupun pihak swasta.

Saleh menilai pemerintah dengan kekuatan yang sangat besar seharusnya bisa mendukung aktivitas pengamatan migrasi burung melalui regulasi. Pemerintah dapat berfokus pada kebijakan konservasi yang mendukung habitat di sepanjang jalur migrasi burung agar selalu lestari.

Bentuk regulasi yang dapat dilakukan adalah mempertegas dan mencegah perburuan burung migran dengan senapan angin, deforestasi, dan kebijakan lain yang turut menjaga habitat. Perubahan lingkungan yang terjadi pada kawasan persinggahan burung mingguan dapat berpotensi mengubah jalur migrasi.

Wisata berkelanjutan

Tren pariwisata global sedang beralih dari wisata massal ke wisata berkelanjutan yang tersegmentasi, seperti pengamatan burung atau birdwatching yang memiliki potensi menjanjikan untuk mendongkrak ekonomi lokal.

Aktivitas utama wisata minat khusus ini hanya berupa mengamati burung pada habitat alami tanpa merusak hutan, mangrove, rawa, maupun pantai yang menjadi tempat persinggahan burung migran. Dampak ekologis dan jejak karbon yang ditinggalkan tentu jauh lebih sedikit ketimbang wisata massal.

Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram Zefanya Andryan Girsang mengatakan walau peminat wisata pengamatan burung relatif sedikit, namun wisatawan cenderung tinggal lebih lama dan rela merogoh biaya besar demi melihat keindahan berbagai spesies burung migran.

Kegiatan mengamati burung migran selalu mengedepankan prinsip menghormati lingkungan dan menjaga nilai-nilai budaya masyarakat lokal.

"Kombinasi antara keanekaragaman hayati dan lanskap yang indah menjadikan Nusa Tenggara Barat sangat potensial menjadi destinasi birdwatching kelas dunia setara dengan destinasi populer, seperti Arfak dan Waigeo di Papua Barat," kata Zefanya yang akrab disapa Ivan, lulusan magister bidang manajemen pariwisata dan olahraga dari Nicolaus Copernicus University di Polandia tersebut.

Aktivitas pengamatan burung dapat menjadi diversifikasi produk wisata bagi Nusa Tenggara Barat bila ditilik dari kacamata pemasaran pariwisata.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
PIN SPMB Belum Masuk? Ini P...
Nasional
SBY: Kepercayaan Publik Jad...
Megapolitan
DKI Perluas Pelatihan Kerja...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.