Rupiah Hari Ini Tertekan, Investor Wait and See: Kebergantungan pada The Fed Kian Nyata
📅 Rabu, 05 Nov 2025, 16:50 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/ Dhemas Reviyanto
JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada periode terkini terutama dipengaruhi oleh faktor eksternal, seiring meningkatnya sensitivitas pasar terhadap perubahan persepsi arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).
Ekspektasi bahwa The Fed akan menunda atau memperlambat penurunan suku bunga mendorong penguatan dolar AS secara global, menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Meskipun fundamental domestik relatif terjaga, tekanan eksternal ini menunjukkan tingginya ketergantungan pasar keuangan Indonesia terhadap dinamika global dan arah kebijakan moneter negara maju.
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan, Rabu (5/11) sore, melemah sebesar 9 poin atau 0,05 persen menjadi Rp16.717 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.708 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) pada hari ini juga melemah di level Rp16.729 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.674 per dolar AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange ICDX Taufan Dimas Hareva mengatakan pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah masih didominasi sentimen global.
"Nilai tukar rupiah pada hari ini bergerak melemah terbatas terhadap dolar Amerika Serikat, seiring dominannya sentimen global pascakeputusan Federal Reserve memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin," ujarnya di Jakarta, Rabu (5/11).
Secara umum, pemangkasan suku bunga oleh The Fed disebut memberi sinyal positif bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, karena berpotensi meningkatkan aliran modal ke aset berisiko.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, dampak tersebut saat ini masih tertahan seiring ekspektasi bahwa suku bunga riil di Amerika Serikat (AS) akan tetap tinggi dalam waktu yang lebih lama.
Taufan menilai kecenderungan pelemahan rupiah dalam beberapa hari terakhir mencerminkan sensitivitas pasar terhadap perubahan persepsi arah kebijakan moneter AS.
"Selama belum muncul indikasi yang lebih kuat mengenai percepatan pelonggaran kebijakan, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan bertahan hingga menjelang pertemuan FOMC (Federal Open Market Committee) berikutnya, meskipun peluang penguatan dapat terbuka apabila data inflasi AS menunjukkan perlambatan yang konsisten," ungkap Taufan.
Perbedaan pandangan di antara pejabat The Fed mencerminkan ketidakpastian arah kebijakan moneter AS ke depan.
Sebagian anggota menilai pelonggaran suku bunga perlu ditunda hingga inflasi benar-benar terkendali, sementara lainnya menilai pengetatan berkepanjangan justru berisiko menekan pertumbuhan ekonomi.
Perbedaan ini menimbulkan volatilitas di pasar keuangan global karena pelaku pasar kesulitan memprediksi waktu dan besaran perubahan suku bunga, yang pada akhirnya turut memengaruhi pergerakan mata uang, termasuk rupiah.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!