Pemda Penyangga Jakarta Bangun “Park and Ride”
📅 Kamis, 30 Okt 2025, 01:05 WIB | Oleh: Aloysius Widiyatmaka
Doc: ANTARA/Lifia Mawaddah Putri
JAKARTA – Para pemerintah daerah penyangga Jakarta sepakat akan membangun park and ride di wilayah masing-masing. Ini untuk mengakomodasi warga pinggiran yang akan ke Jakarta agar melanjutkan menggunakan transportasi umum. Kesepatan ini muncul dalam rapat koortinasi Gubernur Jakarta, Pramono Anung, dengan para kepala daerah Bogor, Bekasi, Depok, dan Tangerang.
“Transportasi harus diselesaikan bersama, tak bisa hanya oleh Jakarta,” kata Pramono, Rabu (29/10). Menurut Pramono rapat koordinasi dengan sejumlah kepala daerah penyangga juga membahas transportasi di Jabodetabek. “Karena bagaimanapun untuk mengatasi persoalan transportasi Jakarta, tidak bisa sendirian, harus bersama-sama dengan daerah-daerah terutama Bogor, Bekasi, Depok, Tangerang, dan Tangerang Selatan,” jelas Pramono.
Dalam rapat tersebut, Pramono bersama kepala daerah lainnya membahas terkait perkembangan Transjabodetabek. Pramono menjelaskan, dengan adanya park and ride, masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi menuju feeder (pengumpan) bisa memarkirkan kendaraannya di sana.
“Park and ride-nya kami mengusulkan untuk disediakan oleh daerah-daerah setempat. Ini menjadi tempat parkir mereka dan tentunya akan ada revenue untuk parkir. Ini akan sangat bermanfaat,” katanya. Pertemuan itu pun turut membahas terkait integrasi transportasi umum di wilayah Jabodetabek. Sebab Pramono tak ingin, persoalan transportasi umum yang terintegrasi hanya terselesaikan di satu wilayah.
Untuk itu, Pramono ingin mengembangkan transit oriented development (TOD) yang akan dilakukan mulai 2026 mendatang. Dia berharap, manfaat dari pengembangan ini bisa segera dirasakan oleh masyarakat. “Kemudian akan dilakukan bersama termasuk pengembangan Transit Oriented Development. Itu ada dua. Satu yang dikembangkan oleh pemerintah Jakarta. Satu lagi dikembangkan oleh MRT,” ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
JakLingko
Sementara itu, Pemprov Jakarta hingga kini belum bisa memperluas jaringan JakLingko ke daerah penyangga, meski kawasan tersebut sangat membutuhkan. “Dalam jangka panjang yang sebenarnya Mikrotrans atau Jaklingko itu lebih dibutuhkan di luar Jakarta. Tetapi, itu nanti mungkin lima tahun ke depan,” kata Pramono.
Untuk saat ini dia masih akan fokus ke penyempurnaan layanan JakLingko di dalam Jakarta. Sebab saat ini masih banyak masyarakat yang mengeluhkan pramudi JakLingko ugal-ugalan dan tidak ramah. Mereka juga maunya buru-buru dan sering tak mau berhenti. Padahal di halte jelas-jelas banyak penumpang yang menunggu.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Saya seringkali mendapatkan kritik bahwa Jaklingko ngebut, ugal-ugalan, sopirnya judes. Sebelah sopir bisa saudaranya, istrinya, atau anaknya. Yang seperti itu tidak profesional. Saya akan minta Dinas Perhubungan yang seperti itu ditegur,” ujar Pramono. Untuk itu, evaluasi dan penyempurnaan dinilai penting agar sistem transportasi publik Jakarta benar-benar nyaman dan profesional sebelum melakukan ekspansi ke daerah sekitar.
“Saat ini yang kita lakukan adalah untuk Mikrotrans atau Jaklingko tetap seperti sekarang, tetapi harus dilakukan penyempurnaan,” kata Pramono. ν wid/Ant/G-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!