Gen Z Dikenal Adaptif, Gimana Cara Mereka Bertahan dan Nikmati Posisinya di Dunia kerja? Cari Tahu Yuks!
📅 Minggu, 26 Okt 2025, 17:29 WIB | Oleh: Opik
Doc: ANTARA/HO-Diskominfo Surabaya
JAKARTA - Gen Z adalah generasi yang tumbuh di tengah revolusi digital, krisis global, dan percepatan teknologi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mereka yang lahir antara 1997–2012 ini dikenal adaptif, kritis, serta memiliki kesadaran tinggi terhadap makna kerja.
Di Indonesia, figur seperti Jerome Polin, kreator edukatif sekaligus wirausahawan muda, mencerminkan sosok Gen Z yang menikmati pekerjaan menantang secara intelektual, tapi tetap memberi ruang bagi ekspresi diri dan keseimbangan hidup.
Bagi Gen Z, pekerjaan bukan sekadar sumber penghasilan, melainkan wadah untuk berkembang, bereksperimen, dan berkontribusi. Tak heran bila mereka menyenangi “pola zigzag” dalam menentukan berapa lama akan bertahan dan menikmati keberadaan di suatu tempat kerja.
Gen Z dikenal memiliki prinsip kuat terhadap nilai kejujuran dan penghargaan atas kinerja individu. Mereka tidak segan meninggalkan tempat bekerja ketika hasil kerja pribadinya diakui sebagai capaian tim tanpa penyebutan kontribusi mereka sebagai individu dengan adil.
Generasi ini juga cenderung mudah berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain apabila menemukan lingkungan kerja yang tidak menerapkan nilai kejujuran, keterbukaan, dan penghargaan terhadap prestasi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bagi Gen Z, pengakuan yang proporsional dan peluang untuk berkembang merupakan bagian penting dari kepuasan dan loyalitas mereka di dunia kerja.
Laporan Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey 2025 mencatat bahwa 61 persen Gen Z memilih bertahan di tempat kerja yang menghargai kesejahteraan mental dan peluang belajar berkelanjutan. Mereka lebih loyal kepada organisasi yang memberi tujuan (purpose), fleksibilitas, dan jalur pengembangan diri.
Di sisi lain, Gallup Workplace Report 2024 menegaskan bahwa Gen Z cenderung gelisah dalam sistem kerja yang kaku, hierarkis, dan tidak memberi ruang bagi ide baru.
Sebaiknya Anda baca juga:
Mereka menghargai pimpinan yang terbuka terhadap umpan balik, serta lingkungan yang kolaboratif dan transparan. Ketika mereka merasa tidak didengar atau peran mereka tidak jelas, tingkat keterikatan dan produktivitas menurun drastis.
Dalam proses beradaptasi, Gen Z mengandalkan critical thinking dan design thinking. Mereka terbiasa menganalisis masalah secara logis, kemudian mencari solusi kreatif berbasis empati dan eksperimen cepat.
Pendekatan ini membuat mereka mudah menyesuaikan diri dengan budaya kerja baru, terutama di sektor teknologi, komunikasi, dan industri kreatif. Survei LinkedIn Workplace Learning Report 2024 menunjukkan 76 persen profesional Gen Z aktif mengikuti pelatihan daring dan bootcamp untuk memperkuat kemampuan analitis dan kreatif mereka.
Selain itu, sejumlah faktor yang membuat Gen Z betah di tempat kerja antara lain perusahaan memiliki kepemimpinan yang mendukung (bukan mengontrol melainkan membimbing), adanya keluwesan waktu dan lokasi kerja (sistem hybrid atau remote menjadi nilai tambah), kultur inklusif dan kolaboratif (Gen Z lebih produktif dalam tim lintas generasi), serta pekerjaan yang selaras dengan nilai pribadi dan isu keberlanjutan (makna dan dampak sosial).
Sedangkan faktor yang membuat Gen Z mudah gelisah di tempat kerja adalah ketidakjelasan arah karier, kurangnya pengakuan, dan komunikasi satu arah dari manajemen. Mereka lebih menghargai organisasi yang memiliki budaya feedback loop cepat dan memberi ruang eksplorasi.
Identitas profesional
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!