6 Bendungan Raksasa di Kaltim Jadi Penopang Ketahanan Air dan Pangan Nusantara
📅 Kamis, 23 Okt 2025, 17:30 WIB | Oleh: Alfred
Doc: ANTARA/Ahmad Rifandi
SAMARINDA - Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV Samarinda menetapkan enam bendungan strategis di Kalimantan Timur sebagai penopang utama ketahanan air dan pangan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mewujudkan pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan sekaligus memperkuat produktivitas pertanian di wilayah Bumi Etam.
"Keenam bendungan di Kalimantan Timur ini bukan hanya berfungsi menampung air, tetapi juga menjaga ketahanan air, pangan, dan energi kita di masa depan," kata Kepala BWS Kalimantan IV Andri Rachmanto Wibowo di Samarinda, Kamis.
Upaya pengelolaan sumber daya air ini merupakan komitmen BWS Kalimantan IV dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di Bumi Etam.
Andri memaparkan keenam bendungan yang menjadi fokus pengelolaan itu meliputi Bendungan Marangkayu, Lempake, Samboja, Teritip, Manggar, dan Sepaku Semoi.
Masing-masing bendungan tersebut, lanjutnya, memiliki peran penting dalam menampung air baku, mengairi lahan pertanian, serta berfungsi sebagai pengendali banjir.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia mencontohkan Bendungan Manggar dan Lempake yang secara vital menopang kebutuhan irigasi serta air baku bagi masyarakat.
Dalam menjalankan mandat tersebut, BWS Kalimantan IV mengandalkan penerapan ilmu hidrologi secara akurat. Hidrologi dipahami sebagai ilmu yang mempelajari pergerakan, distribusi, dan kualitas air di alam.
Terapan itu membantu BWS memahami bagaimana air tersedia dan dimanfaatkan untuk kehidupan, termasuk sektor pertanian.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Tanpa data hidrologi yang akurat, sulit mengatur irigasi, bendungan, dan jadwal tanam dengan efisien," jelas Andri.
Peran hidrologi bagi BWS adalah menentukan lokasi potensial sumber air irigasi. Ilmu ini juga digunakan untuk memprediksi musim hujan dan mengantisipasi kekeringan.
Selain itu, hidrologi penting untuk mengukur debit dan kualitas air, serta mendukung perencanaan rehabilitasi irigasi. Dampak langsung dari pengelolaan hidrologi dan irigasi yang presisi adalah tanaman petani mendapat air yang cukup.
Hal ini secara signifikan menurunkan risiko gagal panen yang sebelumnya sering dihadapi. Otomatis, produktivitas lahan pertanian di wilayah kerja BWS Kalimantan IV akan meningkat.
Dengan begitu, upaya kolektif mewujudkan swasembada pangan di Kalimantan Timur menjadi semakin nyata. Upaya BWS Kalimantan IV ini telah dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat petani.
Salah satu bukti datang dari Warsiyo, anggota Kelompok Tani di Kelurahan Tanah Merah, Kota Samarinda. Dia memberikan kesaksian mengenai dampak positif dari program rehabilitasi irigasi yang dikerjakan BWS.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!