Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

“Lilin-Lilin Kecil”: Lagu Abadi James F. Sundah yang Menyala dalam Ingatan Bangsa

📅 Jumat, 17 Okt 2025, 07:43 WIB | Oleh: Tim Penulis
“Lilin-Lilin Kecil”: Lagu Abadi James F. Sundah yang Menyala dalam Ingatan Bangsa Doc: Antara Foto
Ket. Komponis, penulis lagu, dan produser legendaris Indonesia James F. Sundah, sosok di balik karya ikonik “Lilin-Lilin Kecil”

Di sebuah ruang kerja sederhana di jantung Kota New York, aroma waktu seolah berhenti di antara rak-rak kayu yang dipenuhi partitur tua, catatan musik yang mulai menguning, dan foto-foto hitam putih yang merekam jejak kehidupan.

Di sanalah, di tengah keheningan yang hanya dipecah oleh denting lembut piano, duduk James F. Sundah, seorang maestro yang karyanya telah menjadi bagian dari denyut ingatan bangsa.

Namanya lekat dalam sejarah musik Indonesia, tak terpisahkan dari “Lilin-Lilin Kecil”, lagu abadi yang menemani perpisahan, menenangkan kehilangan, dan merayakan harapan di hati jutaan orang.

Namun, bagi James, hidupnya bukanlah tentang panggung dan sorak sorai penonton, bukan pula tentang pujian atau popularitas yang datang dan pergi. Hidupnya adalah tentang perjalanan panjang seorang seniman yang memilih mencipta dengan ketulusan, menulis dengan cinta, dan menghadirkan keindahan dari kedalaman jiwa bahkan ketika tak seorang pun melihatnya.

Perjalanan itu kembali mencapai titik penting ketika ia merilis karya terbarunya, “Seribu Tahun Cahaya.” Lagu ini bukan sekadar musik tapi juga kisah tentang cinta, kesetiaan, waktu yang panjang, dan rasa syukur yang mendalam.

“Lagu ini saya tulis delapan belas tahun lalu untuk istri saya, Lia,” ujar James dengan suara yang tenang meski sarat emosi.

“Tapi hidup berjalan dengan segala kejutan dan ujian. Saya sempat mengalami masa kritis karena kanker, dan Lia, bersama anak kami, merawat saya dengan cinta yang tak pernah surut. Lagu ini adalah ucapan terima kasih yang tidak akan pernah cukup.”

Di usia yang tak lagi muda, dengan rambut putih gondrong yang menandakan perjalanan panjangnya, James justru terlihat semakin hidup. Baginya, “Seribu Tahun Cahaya” bukan hanya proyek musik, tetapi cermin dari seluruh perjalanan batin seorang pencipta yang tak pernah berhenti belajar tentang kehidupan.

Ia memilih merilisnya dalam tiga bahasa: Indonesia, Inggris, dan Jepang.  Bukan demi sensasi, melainkan sebagai simbol bahwa cinta dan pesan kemanusiaan bersifat universal.

Setiap versi menghadirkan warna budaya yang berbeda; angklung dan kolintang yang hangat di versi Indonesia; koto dan shakuhachi yang melankolis di versi Jepang; nuansa luar angkasa lewat sintetis futuristik di versi Inggris.

Semua itu adalah cara James menyampaikan satu pesan sederhana bahwa musik mampu menembus batas waktu, bahasa, dan geografis.

Dua Dekade

Perjalanan “Seribu Tahun Cahaya” sendiri tidak selalu mulus. Saat pertama kali digarap pada 2007, genre Pop/EDM yang ia rancang dianggap terlalu maju.

“Mendiang Djaduk Ferianto bahkan mengatakan musiknya terlalu futuristik,” kenang James sambil tersenyum.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Disapu Topan Jangmi, 23 War...

Babel Gatiskan 6.000 Sertifikat Halal

38 menit yang lalu | Sujar

Daerah
Babel Gatiskan 6.000 Sertif...
Luar Negeri
Bandara Dihantam Rudal, Kuw...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.