“Lilin-Lilin Kecil”: Lagu Abadi James F. Sundah yang Menyala dalam Ingatan Bangsa
📅 Jumat, 17 Okt 2025, 07:43 WIB | Oleh: Tim PenulisKeputusan itu bukan karena ambisi menguasai semuanya, melainkan sebagai pernyataan tegas bahwa setiap karya adalah hasil kerja kolektif yang harus dihargai.
Bagi James, musik selalu lebih besar daripada dirinya sendiri. Ia tidak pernah melihat lagu-lagunya sebagai produk komersial, tetapi sebagai cara untuk merawat ingatan, menyampaikan pesan, dan membangun kesadaran.
“Seribu Tahun Cahaya” memang lahir dari cinta seorang suami kepada istrinya, tetapi lebih dari itu, lebih merupakan metafora tentang ketekunan, kesetiaan, dan kekuatan manusia untuk terus mencipta meski waktu berjalan begitu panjang.
Jejak James membentang luas. Selain “Lilin-Lilin Kecil” yang menjadi anthem lintas generasi, Ia pernah berkolaborasi dengan Titiek Puspa serta dua personel Scorpions, Klaus Meine dan Rudolf Schenker, dalam lagu “When You Came Into My Life” (album Pure Instinct, 1996) yang diproduseri David Foster dan meraih sertifikasi emas di Jerman, Prancis, dan Finlandia.
Sebaiknya Anda baca juga:
James juga terlibat aktif dalam berbagai organisasi musik seperti Persatuan Artis Penyanyi Pencipta Lagu dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI), Karya Cipta Indonesia (KCI), dan Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) untuk memperjuangkan hak cipta di Indonesia.
Semua itu ia lakukan bukan demi nama besar, tetapi demi satu cita-cita untuk menjadikan musik Indonesia dihormati dan para penciptanya dihargai.
Kini, di masa senjanya, James tinggal bersama Lia dan anak mereka di New York. Namun, lilin kecil yang ia nyalakan puluhan tahun lalu terus menyala. Ia masih menulis, masih mencipta, dan masih percaya bahwa setiap nada punya kekuatan untuk mengubah dunia.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Saya hanya ingin terus berkarya,” katanya pelan. “Kalau satu lagu bisa membuat seseorang merasa tidak sendiri, atau memberi harapan kepada yang sedang putus asa, maka hidup saya tidak sia-sia.”
Dalam dunia yang serba cepat, penuh kebisingan, dan sering melupakan makna, James F. Sundah berdiri sebagai pengingat bahwa karya besar tidak lahir dari keinginan untuk terkenal, tetapi dari ketulusan hati yang terus bekerja tanpa pamrih.
“Seribu Tahun Cahaya” bukan sekadar lagu tapi cermin hidup seorang seniman yang setia pada panggilan jiwanya mencipta dengan cinta, berjuang demi keadilan, dan berbagi cahaya bagi siapa pun yang bersedia mendengarkan.
Di situlah letak keabadian, bukan pada seberapa sering lagu itu diputar, tetapi pada seberapa dalam ia menyentuh hati.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!