Belum Lulus, Sudah Punya Brand Sendiri: Kisah Naomi dan Shanelle, Mahasiswi Binus di Balik Sanane
📅 Jumat, 17 Okt 2025, 22:15 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Sanane
JAKARTA - Ketika mendengar nama Binus, sebagian besar orang langsung terbayang kampus teknologi dengan reputasi kuat di bidang IT. Namun ternyata, dari kampus yang sama juga lahir para entrepreneur muda berbakat di industri kreatif.
Salah satunya Naomi Hilya dan Shanelle Callista Hendra, mahasiswa semester tujuh jurusan Fashion Design Binus University, yang sudah berani meluncurkan jenama atau brand fashion mereka sendiri bernama Sanane ketika masih berkuliah. Seperti apa perjalanan mereka?
Awal Mula Jenama Fashion Sanane
Cerita Sanane dimulai dari sebuah tugas kuliah. Alih-alih sekadar menyelesaikan untuk nilai, keduanya justru menyeriusi ide tersebut dan menjadikannya sebuah brand siap pakai. “Awalnya untuk tugas sustainability, kita bikin clutch dari recycled denim,” cerita Naomi.
“Di awal kita masih coba-coba, termasuk dengan produk sustainable. Tapi setelah tes pasar, ternyata yang lebih jalan justru ready to wear ini. Walaupun akhirnya Sanane berkembang menjadi merek yang ready to wear, kami tetap berkomitmen untuk mengintegrasikan nilai-nilai keberlanjutan ke dalam setiap langkah ke depannya, termasuk nilai-nilai sustainability,” ungkapnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bagi Naomi dan Shanelle, keputusan untuk memilih jalur Entrepreneurship Track jadi titik balik. Awalnya, mereka sempat mempertimbangkan magang di rumah mode atau jadi asisten desainer. Namun setelah merasakan kelas-kelas kewirausahaan, termasuk seminar dan bimbingan mingguan, mereka mantap untuk melangkah lebih jauh.
Dengan adanya mentoring intensif, mahasiswa bisa menguji ide bisnis sejak dini dan belajar menghadapi realita pasar. Bagi Binus University, inilah bentuk nyata dukungan agar mahasiswa tak hanya jadi pekerja, tapi juga pencipta lapangan kerja.
Unik Karena Detail Payet dan Pemberdayaan Perempuan
Sebaiknya Anda baca juga:
Sanane hadir dengan identitas jelas, yaitu tank top kasual yang dipermanis dengan aplikasi payet berwarna-warni. Tren tanktop memang sudah ramai di media sosial, tapi keduanya melihat celah khusus di Jakarta.
“Kalau polosan aja kan boring, jadi kita tambahin elemen-elemen ini biar tetap casual, tapi ada sesuatu yang beda,” jelas Shanelle.
Selain koleksi payet, Sanane juga punya basic collection dengan desain multifungsi. Ada model cascade yang bisa dipakai sebagai dress atau atasan, serta koleksi dengan detail karet di bagian belakang agar lebih nyaman untuk berbagai bentuk tubuh. Warna- warna dasar seperti hitam dan putih jadi pilihan utama, sehingga koleksi ini fleksibel untuk di-mix and match.
Hal menarik lainnya, Sanane tidak hanya fokus pada desain. Justru, mereka juga menyoroti pemberdayaan. Produksinya melibatkan ibu-ibu rumah tangga yang bisa bekerja dari rumah tanpa meninggalkan peran utama mereka. Hal ini sejalan dengan semangat banyak fashion brand masa kini yang menekankan nilai keberlanjutan dan komunitas.
“Kita pengin ibu-ibu daerah bisa tetap punya penghasilan meskipun kerjanya dari rumah,” kata Naomi.
Belum Lulus, Sudah Produksi Massal
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!