Fakta Mengejutkan! Struktur Tenaga Kerja RI Rapuh, UMKM Belum Sekuat yang Dibayangkan

Kamis, 09 Okt 2025, 01:00 WIB

JAKARTA — Indonesia saat ini menghadapi tantangan serius dalam struktur ketenagakerjaan. Sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), yang selama ini menjadi tulang punggung penyerapan tenaga kerja, ternyata belum memiliki fondasi cukup kuat untuk menopang pertumbuhan berkelanjutan. 

Banyak pelaku usaha masih menghadapi keterbatasan modal, produktivitas rendah, serta akses yang minim terhadap teknologi dan pasar. Kondisi ini membuat kontribusi UMKM terhadap penciptaan lapangan kerja cenderung stagnan. 

Ket. Foto: Ilustrasi - Pekerja menyelesaikan produksi kue kering di Pabrik J&C Cookies, Bojongkoneng, Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. — Sumber: Antara.

Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB Suhartoko menyoroti rapuhnya struktur ketenagakerjaan Indonesia yang selama ini bergantung pada sektor UMKM. Meski menyerap hingga 97 persen tenaga kerja nasional dan berperan besar dalam menekan pengangguran, UMKM ternyata belum memiliki fondasi yang kokoh. 

Dia menambahkan keterbatasan akses permodalan, kualitas SDM yang belum merata, hingga manajemen usaha yang masih informal membuat sektor ini rentan terhadap guncangan ekonomi. "UMKM sangat rawan untuk bangkrut dan dengan demikian kesempatan tenaga kerja juga mudah menyempit," ungkap Suhartoko, Rabu (8/10).

Dia menegaskan lapangan kerja yang tersedia tidak menjanjikan sesuai ketrampilan para pekerjanya dan tentu saja tidak memberikan pendapatan yang cukup. Karena itu, struktur penyerapan tenaga kerja perlu dilakukan perubahan. 

"Industri menengah dan besar perlu didorong untuk menyerap tenaga kerja lebih banyak. Namun demikian dari sisi penawaran tenaga kerja harus ditingkatkan kualitas dan ketrampilannya. Balai latihan kerja perlu diperbanyak dan ditingkatkan peran serta kualitasnya," jelasnya.

Keberhasilan Vietnam

Peneliti Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Awan Santosa mengatakan Indonesia perlu belajar dari Vietnam yang berhasil mendorong pertumbuhan industrinya sehingga bisa menyerap pekerja dalam jumlah besar. Produk Domestik Bruto (PDB) Vietnam tumbuh sebesar 8,22 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy) pada kuartal III-2025, Vietnam dapat mengantisipasi dampak tarif Trump.

Menurut laporan Kantor Berita Vietnam, Minggu (5/10), mengutip data dari Kementerian Keuangan Vietnam. Berbicara dalam pertemuan pemerintah pada Minggu pagi waktu setempat, perwakilan dari kementerian tersebut menilai bahwa pertumbuhan tersebut merupakan ekspansi pada kuartal III-2025 tertinggi sejak 2011, tidak termasuk pada 2022 ketika pertumbuhan melonjak akibat pemulihan pascapandemi. 

Menurut laporan tersebut, pada kuartal III-2025, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh sebesar 3,74 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara, sektor industri dan konstruksi meningkat 9,46 persen dan sektor jasa naik sebesar 8,54 persen. Bagaimana dengan Indonesia?

"Industri Vietnam terus tumbuh, termasuk ekspornya. Sementara Industri Indonesia masih menghadapi problem struktural daya saing dan perlindungan, yang mengakibatkan sebagian kolaps dan berakibat pemutusan hubungan kerja (PHK)," ucap Awan.

Awan menegaskan, Indonesia harus belajar dari Vietnam dalam membangun dan memperkuat struktur industrinya di dalam negeri agar tetap berdaya tahan ketika menghadapi tekanan dari luar ataupun dari dalam negeri sendiri.

Sebelumnya, Bank Dunia, Selasa (7/10) menyatakan generasi muda di seluruh Asia tengah berjuang untuk mendapatkan pekerjaan yang baik. Banyak di antara mereka yang terjebak dalam pekerjaan dengan produktivitas rendah yang dapat membebani stabilitas sosial karena rasa frustrasi sehingga memicu gelombang protes global. 

Lembaga itu juga menyoroti kesenjangan yang terus-menerus antara pekerja yang lebih muda dan yang lebih berpengalaman di beberapa negara ekonomi Asia. Terbaru, satu dari tujuh generasi muda di Tiongkok dan Indonesia menganggur. Laporan itu memperingatkan bahwa jumlah orang yang rentan jatuh ke dalam kemiskinan kini lebih besar daripada kelas menengah di sebagian besar negara.

“Tingkat pengangguran umumnya tinggi, kaum muda kesulitan mencari pekerjaan,” sebut Bank Dunia dalam ekonomi regional terkini yang diterbitkan, Selasa (7/10). Lebih lanjut dikatakan, sebagian besar orang di Asia yang mencari pekerjaan berhasil mendapatkan, namun banyak di antara mereka bekerja pada bidang yang produktivitasnya rendah atau sektor informal. ers/E-10

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.