Defisit Migas Tekan Neraca Perdagangan

Selasa, 04 Agu 2026, 03:10 WIB

JAKARTA – Surplus neraca perdagangan Indonesia pada semester I 2026 dinilai masih menunjukkan daya tahan di tengah perlambatan ekonomi global. Namun, sejumlah ekonom mengingatkan pemerintah agar tidak terlena karena surplus tersebut mulai tergerus oleh lonjakan impor energi yang memperlebar defisit sektor minyak dan gas (migas).

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari–Juni 2026 masih mencatat surplus sebesar 3,58 miliar dollar AS. Meski demikian, defisit perdagangan sebesar 450 juta dollar AS pada Juni 2026 menjadi sinyal bahwa fondasi surplus eksternal mulai melemah.

Ket. Foto: Surplus neraca perdagangan Indonesia pada semester I 2026 dinilai masih menunjukkan daya tahan di tengah perlambatan ekonomi global. — Sumber: istimewa

"Defisit perdagangan pada Juni menunjukkan surplus eksternal mulai tertekan, terutama akibat kenaikan impor energi dan meningkatnya kebutuhan domestik," kata Yusuf, sebagaimana diberitakan Antara di Jakarta, Senin (3/8).

Menurutnya, kondisi tersebut memperlihatkan bahwa ketahanan perdagangan Indonesia masih sangat bergantung pada sejumlah komoditas unggulan, sementara ketergantungan terhadap impor energi belum berhasil ditekan.

Tekanan terbesar berasal dari defisit sektor migas yang terus melebar akibat meningkatnya impor minyak mentah dan produk minyak. Di sisi lain, surplus perdagangan nonmigas memang masih menjadi penopang utama, tetapi ruangnya semakin terbatas.

Yusuf menilai industri pengolahan masih menjadi motor pertumbuhan ekspor, terutama berkat hilirisasi nikel. Namun, pelemahan ekspor sektor pertanian, kehutanan, perikanan, serta komoditas tambang mentah menunjukkan struktur ekspor Indonesia masih belum terdiversifikasi.

Sementara itu, peningkatan impor bahan baku, barang modal, dan peralatan listrik memang mencerminkan aktivitas investasi dan produksi yang masih berlangsung. Namun, kondisi tersebut juga mengindikasikan industri nasional masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor.

"Jika kapasitas produksi dalam negeri tidak mampu mengejar pertumbuhan impor tersebut, tekanan terhadap neraca perdagangan akan kembali meningkat ketika harga energi naik atau permintaan domestik menguat," ujarnya.

Karena itu, ia menilai penguatan industri nasional dan diversifikasi ekspor menjadi langkah mendesak agar surplus perdagangan tidak hanya bergantung pada komoditas tertentu.

Mudah Tergerus

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman, menilai membengkaknya defisit migas menunjukkan pemerintah belum mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor energi meskipun isu transisi energi dan ketahanan energi terus digaungkan.

Menurutnya, selama impor migas tetap tinggi, surplus perdagangan akan mudah tergerus setiap kali harga minyak dunia meningkat.

"Defisit ini menunjukkan kerentanan perdagangan Indonesia karena ketergantungan terhadap impor migas masih sangat besar. Ketika harga energi naik, neraca perdagangan langsung tertekan," ujarnya.

Rizal juga mengingatkan ekspor Indonesia masih terlalu bergantung pada komoditas primer dan produk hilirisasi yang belum memiliki nilai tambah maksimal sehingga rentan terhadap fluktuasi harga global dan perlambatan ekonomi negara mitra dagang.

Karena itu, ia mendorong pemerintah mempercepat ekspor produk manufaktur bernilai tambah tinggi, seperti makanan olahan, kimia, farmasi, komponen otomotif, tekstil bernilai tambah, hingga produk hilirisasi yang sudah menjadi barang jadi.

Selain meningkatkan nilai ekspor, pemerintah juga diminta memperluas pasar nontradisional seperti India, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin agar ketergantungan terhadap pasar utama dapat dikurangi.

  • Neraca Perdagangan

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.