Permintaan Daging Ayam Ras dan Emas Picu Inflasi 0,21 Persen di Jabar
Kamis, 02 Okt 2025, 07:47 WIBBANDUNG â Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat (Jabar) mengungkapkan meningkatnya permintaan daging ayam ras hingga terus melonjaknya harga emas termasuk di dunia, memicu inflasi bulanan (month-to-month/mtm) September 2025 di Jawa Barat.
"Meningkatnya permintaan daging ayam ras dan terus melonjaknya harga emas dunia, menjadi pemicu utama inflasi bulanan pada September 2025 yang tercatat sebesar 0,21 persen," kata Plt Kepala BPS Jawa Barat Darwis Sitorus di Gedung BPS Jabar Bandung, Rabu (02/10).
Adapun untuk inflasi tahun berjalan (year-to-date/ytd), lanjut Darwis, adalah sebesar 1,57 persen, sedangkan inflasi tahunan (year-on-year/yoy) pada September 2025 sebesar 2,19 persen.
"Seluruh kelompok pengeluaran mengalami inflasi bulanan pada September 2025. Inflasi tertinggi dialami kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 1,45 persen, dengan andil inflasi sebesar 0,09 persen. Diikuti kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,28 persen dengan andil inflasi sebesar 0,09 persen," ujar Darwis.
Untuk kelompok pengeluaran lainnya, kata Darwis, yaitu kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga inflasinya sebesar 0,04 persen. Sedangkan kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rumah tangga mengalami inflasi sebesar 0,10 persen, dan kelompok kesehatan inflasi sebesar 0,03 persen.
Selain itu yang juga mengalami inflasi yaitu kelompok rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 0,12 persen, lalu diikuti kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,01 persen, serta kelompok pendidikan sebesar 0,10 persen.
Untukkelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran, BPS Jabar mencatat terjadi inflasi sebesar 0,04 persen.Â
Jika berdasarkan komoditas, kata Darwis, andil inflasi tertinggi disumbang oleh daging ayam ras sebesar 0,15 persen, emas perhiasan sebesar 0,08 persen, cabai merah sebesar 0,06 persen, air kemasan dan ikan kembung masing-masing sebesar 0,01 persen.
"Selain komoditas yang menyumbang inflasi, ada juga yang mengalami penurunan harga dan menyumbang andil deflasi yaitu bawang merah memberikan andil deflasi sebesar 0,09 persen, tomat menyumbang andil deflasi 0,05 persen," katanya.
Darwis Sitorus juga mengatakan berdasarkan pemantauan, terdapat 10 kabupaten/kota di Jawa Barat mengalami inflasi pada September 2025.
"Inflasi tertinggi terjadi di Kota Tasikmalaya sebesar 0,32 persen, dan inflasi terendah terjadi di Kabupaten Subang sebesar 0,07 persen," ujar Darwis.
Adapun kabupaten/kota lainnya yang mengalami inflasi yaitu Kota Cirebon sebesar 0,29 persen, Kota Depok sebesar 0,25 persen, Kota Bekasi sebesar 0,23 persen, Kabupaten Majalengka sebesar 0,21 persen, Kota Bogor dan Kabupaten Bandung masing-masing sebesar 0,20 persen, Kota Bandung sebesar 0,16 persen, dan Kota Sukabumi sebesar 0,15 persen.
Redaktur: Bambang Wijanarko
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Wakil Ketua Komisi VI DPR Menyatakan Stok BBM Aman karena Indonesia Punya Sumber Minyak Baru
-
Instruksi Langsung Presiden Prabowo: Bekasi Raya Segera 'Sulap' Sampah Jadi Listrik Mulai Maret
-
Mendagri Serukan Kepala Daerah Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Inflasi
-
Kawasan Transmigrasi Disisir Ulang, Kementrans Andalkan Tim Ekspedisi Patriot untuk Riset Ekonomi
-
Inflasi 3,48 Persen Masuk Target, Kemendagri Soroti Harga Pangan Belum Stabil
-
Sambut Libur Lebaran, Promosi Wisata Digencarkan: Barito Utara Angkat Pesona Air Terjun Jantur Doyam
-
Mulai Sistem Jatah Hingga Pengurangan Hari Kerja, Negara-negara Asia Tempuh Langkah Darurat Hadapi Kenaikan Harga Minyak karena Perang Iran
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.