Kementerian UMKM: Batik Nggak Cukup Dilestarikan, Ekosistemnya Harus Dikuatkan!
📅 Kamis, 02 Okt 2025, 17:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/HO-Kementerian UMKM
JAKARTA – Memperkuat ekosistem usaha batik sebenarnya bukan cuma soal mempercantik motif atau menambah jumlah perajin, tapi lebih ke bagaimana seluruh rantai nilainya bisa saling menopang.
Dari hulu, ada isu bahan baku pewarna alami dan kain yang kadang masih tergantung impor. Di tengah, perajin butuh akses modal, pelatihan desain, hingga adaptasi teknologi biar tetap relevan dengan selera pasar.
Sementara di hilir, pemasaran dan brand identity jadi kunci agar batik nggak cuma dipandang tradisional, tapi juga bisa masuk gaya hidup modern.
Kalau ekosistem ini dikuatkan secara menyeluruh, batik bukan sekadar warisan budaya, tapi juga sumber ekonomi yang berkelanjutan dan kompetitif.
Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merayakan Hari Batik Nasional dengan mempertegas komitmen untuk memperkuat ekosistem usaha batik, agar batik tak hanya menjadi warisan budaya bangsa, tetapi juga menggerakkan ekonomi nasional.
Sebaiknya Anda baca juga:
Staf Ahli Menteri UMKM Bidang Komunikasi dan Hubungan Antar Lembaga Sudaryano Rahmalifman Lamangkona menyampaikan, peringatan Hari Batik Nasional tahun ini menjadi pengingat bahwa batik bukan hanya simbol budaya, tapi juga sumber penghidupan bagi ribuan perajin, pengusaha mikro, dan komunitas lokal di seluruh Indonesia.
“Sejak UNESCO menetapkan batik sebagai warisan budaya tak benda pada 2 Oktober 2009, Hari Batik Nasional bukan hanya momentum untuk menjaga warisan budaya, tetapi juga untuk menghidupkan kembali semangat agar tradisi dan kemajuan ekonomi dapat berjalan beriringan,” kata Sudaryano di Jakarta, Kamis.
Ia menjelaskan, Kementerian UMKM terus mendorong pertumbuhan ekosistem batik melalui program Juragan UMKM dan kerja sama dengan pemerintah daerah, dengan memberikan akses pemasaran melalui bazar, pameran, hingga pengembangan toko digital.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kami ingin UMKM menjadi pemeran utama yang turut menggerakkan ekonomi daerah dan nasional,” ujarnya.
Lebih lanjut, Sudaryano menekankan pentingnya penguatan citra batik sebagai warisan budaya dunia agar generasi muda tetap bangga mengenakannya.
Selain itu, pengembangan UMKM batik terus didorong melalui festival batik di tiga kota yakni Pekalongan, Magelang, dan Malang, serta dorongan pada inovasi desain, teknologi produksi, dan prinsip ramah lingkungan.
Sudaryano juga menyampaikan apresiasi kepada kepala daerah dari Pekalongan, Magelang, dan Malang atas dedikasi mereka dalam memajukan ekosistem batik.
“Ketiga kota ini memiliki peran penting dalam menjaga tradisi batik sekaligus mendorong inovasi agar UMKM batik tetap hidup dan relevan di era modern,” katanya.
Sementara itu, Walikota Pekalongan Afzan Arslan Djunaid menyampaikan sebagai kota yang telah dinobatkan sebagai Kota Batik Dunia, sebagian besar denyut perekonomian Pekalongan bersumber dari industri batik.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!