Allianz Utama Tekankan Pentingnya Proteksi Properti
📅 Kamis, 02 Okt 2025, 20:10 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Allianz Utama Indonesia
JAKARTA - Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat risiko bencana tertinggi di dunia. World Risk Report 2023 menempatkan Indonesia di peringkat kedua dari 193 negara paling rawan bencana, setelah Filipina.
Posisi geografisnya yang berada di pertemuan empat lempeng tektonik utama, yaitu Indo-Australia, Eurasia, Pasifik, dan Filipina, membuat Indonesia rentan terhadap gempa bumi, erupsi gunung berapi, banjir, serta cuaca ekstrim.
Sejumlah peristiwa dalam beberapa bulan terakhir kembali menegaskan kerentanan tersebut. Banjir bandang di Bali pada September 2025 merusak infrastruktur dan menekan sektor pariwisata, banjir besar di Jabodetabek pada Maret 2025 merendam ribuan rumah dan fasilitas publik, sementara gempa bumi berkekuatan M 4,7 di Bekasi pada Agustus lalu turut dirasakan hingga Jakarta, Depok, dan Sukabumi.
Rangkaian kejadian ini menjadi pengingat nyata bahwa bencana dapat terjadi kapan saja dan di mana saja, dengan dampak yang tidak hanya merugikan masyarakat, tetapi juga mengganggu kelangsungan dunia usaha dari skala besar hingga kecil.
Menyikapi urgensi tersebut, Allianz Utama Indonesia bersama PT Reasuransi MAIPARK Indonesia (MAIPARK) menggelar lokakarya media bertajuk “Jaga Aset, Jaga Bisnis: Asuransi Properti di Tengah Risiko Bencana” untuk memperkuat pemahaman akan pentingnya asuransi properti sebagai bagian dari strategi manajemen risiko, khususnya bagi pelaku usaha lintas sektor dan UMKM yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional.
Sebaiknya Anda baca juga:
Risiko Tinggi, Proteksi Masih Rendah
Meski literasi keuangan nasional menunjukkan tren positif, kesadaran masyarakat terhadap asuransi masih tertinggal. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 oleh OJK mencatat indeks literasi keuangan meningkat menjadi 66,46% dengan inklusi mencapai 80,51%. Namun, di sektor asuransi, angkanya jauh lebih rendah dengan indeks literasi hanya 45,45% dan inklusi baru mencapai 28,50%.
Rendahnya pemahaman ini berdampak langsung pada kepemilikan proteksi aset. Pada 2023, data dari MAIPARK menunjukkan hanya sekitar 0,1% atau setara 36 ribu dari total 64 juta rumah tinggal yang memiliki asuransi properti.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ketimpangan ini sangat mengkhawatirkan mengingat besarnya potensi kerugian ekonomi akibat bencana. Berdasarkan analisis Badan Pusat Statistik (BPS), banjir menjadi bencana paling sering terjadi dengan lebih dari 1.400 kejadian sepanjang 2024 dan potensi kerugian ekonomi hingga lebih dari 500 triliun rupiah. Sementara itu, cuaca ekstrim dan kebakaran hutan masing-masing diperkirakan menimbulkan risiko kerugian sekitar 700-800 triliun rupiah.
“Masih banyak masyarakat dan pelaku bisnis yang memahami pentingnya pengelolaan keuangan, tetapi belum menjadikan asuransi sebagai bagian dari strategi perlindungan aset. Padahal, tanpa proteksi, kerugian akibat bencana bisa berlipat ganda dan menghentikan aktivitas usaha secara tiba-tiba yang tentunya akan mengganggu kesinambungan usaha dan pada ujungnya berdampak pada ekonomi,” ungkap Ignatius Hendrawan, Direktur & Chief Technical Officer Allianz Utama Indonesia dalam acara media lokakarya media yang diadakan secara daring pada hari Kamis (2/10).
Proyeksi Risiko Bencana: Ancaman Nyata ke Depan
Kerugian ekonomi akibat bencana tidak hanya langsung, tetapi juga berdampak secara tidak langsung. Studi BPS menunjukkan setiap satu kejadian bencana diperkirakan menurunkan PDB per kapita sebesar 2.386 rupiah, yang setara dengan potensi penurunan 7,43 juta rupiahper kapita dalam setahun.
Sektor perdagangan dan manufaktur yang merupakan motor penggerak ekonomi mengalami dampak terbesar, dengan kerugian tidak langsung masing-masing mencapai 23,96 triliun rupiah dan 19,51 triliun rupiah per tahun.
MAIPARK menegaskan bahwa risiko bencana di Indonesia bukan sekadar potensi, melainkan ancaman nyata yang terus berulang. Peta Sumber Gempa Nasional tahun 2017 yang dipublikasikan oleh Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) mencatat adanya 295 sesar aktif di seluruh Indonesia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!