Klaim Kecukupan Pangan Diragukan
📅 Selasa, 30 Sep 2025, 01:10 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
JAKARTA – Klaim kecukupan pangan di Indonesia masih menyisakan tanda tanya besar. Produksi yang fluktuatif, ditambah distribusi yang kerap tersendat, membuat akses pangan masyarakat tidak merata.
Risiko semakin nyata ketika terjadi bencana besar, di mana kesiapan suplai dan penyaluran pangan pemerintah dinilai belum optimal. Dengan berbagai persoalan klasik yang belum terselesaikan, klaim Badan Pangan Nasional (Bapanas) soal tercapainya kecukupan pangan lebih terlihat sebagai target normatif ketimbang kondisi faktual di lapangan.
Akademisi Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi Universitas Warmadewa, Denpasar, Bali, Dr. I Nengah Muliarta menilai klaim mengenai Indonesia yang telah memenuhi kebutuhan beras, daging ayam, telur, serta beberapa komoditas pangan strategis lainnya mencerminkan optimisme terhadap potensi pertanian Indonesia. Namun, ada beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan secara kritis dalam konteks pencapaian tersebut dan cita-cita menjadi lumbung pangan dunia.
Pertama, meskipun Indonesia mungkin telah mencapai kecukupan dalam beberapa komoditas, penting untuk memastikan ketahanan pangan tersebut berkelanjutan. “Ini mencakup kemampuan untuk memproduksi pangan secara konsisten di masa depan, terutama di tengah tantangan perubahan iklim, fluktuasi harga, dan gangguan rantai pasokan. Intinya jangan buru-buru mengkalim, lihat keberlanjutannya,” ungkap Muliarta, Senin (30/9).
Pernyataan tentang kecukupan pangan harus mencakup diversifikasi produk pangan. Kebergantungan pada beberapa komoditas, meskipun sudah mencukupi, bisa membuat sistem pangan rentan. Diversifikasi dapat meningkatkan ketahanan pangan dan gizi masyarakat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kecukupan produksi tidak selalu berarti akses yang memadai bagi seluruh masyarakat. “Adanya disparitas dalam distribusi pangan dapat menyebabkan ketidakcukupan di beberapa daerah, meskipun secara nasional terlihat cukup. Isu kemiskinan dan akses ekonomi juga harus menjadi perhatian utama,” tegasnya. Kemudian, kualitas pangan juga sangat penting. Kecukupan dalam hal jumlah tidak selalu mencerminkan keberagaman dan nilai gizi makanan.
Program untuk meningkatkan kualitas pangan, termasuk nutrisi, harus diprioritaskan. Guna menjadi lumbung pangan dunia, Indonesia perlu memperkuat infrastruktur pertanian dan teknologi. Investasi dalam riset dan pengembangan, serta adopsi teknologi baru yang berkelanjutan, akan sangat mendukung pencapaian tersebut. Kebijakan pemerintah yang mendukung petani dan produsen pangan sangat penting. “Pengaturan yang tepat, dukungan finansial, dan akses terhadap pasar dapat membantu meningkatkan produksi dan distribusi pangan,” ucap Muliarta.
Lumbung Pangan
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebelumnya, Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi menyebutkan Indonesia telah memenuhi kebutuhan beras, daging ayam, hingga telur secara mandiri, sehingga membuka peluang besar untuk mewujudkan cita-cita menjadi lumbung pangan dunia.
“Sebenarnya Indonesia itu kan juga sudah sufficient (tercukupi) di beberapa pangan strategis selain beras, seperti telur, daging ayam, cabai, dan bawang merah,” kata Arief dalam keterangan di Jakarta, akhir pekan lalu.
Dia menyampaikan hal itu menanggapi pidato Presiden Prabowo Subianto yang mencetuskan bahwa Indonesia akan menjadi lumbung pangan dunia dalam Sidang Majelis Umum ke- 80 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat, Selasa pekan lalu.
“Kita bangga sekali melihat Presiden Prabowo Subianto di forum United Nations. Di sana beliau menyampaikan banyak hal, salah satunya mengenai pangan. Beliau juga bangga sekali karena Indonesia saat ini punya produksi yang baik, khususnya untuk perberasan,” tutur Arief.
Adapun tingkat sufficient (ketercukupan) telah Bapanas susun dalam Proyeksi Neraca Pangan Nasional yang konsisten diperbarui setiap bulannya. Disebutkan beberapa pangan pokok antara lain telur, daging ayam, cabai, dan bawang merah tercatat tidak membutuhkan pasokan impor.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!