Menkeu Pastikan Stimulus Ekonomi “Akselerasi 2025” Tanpa Bebani Defisit APBN
📅 Senin, 15 Sep 2025, 17:53 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Istimewa
JAKARTA – Stimulus ekonomi seringkali membawa konsekuensi pada pelebaran defisit anggaran karena membutuhkan belanja pemerintah yang lebih besar melalui subsidi, insentif fiskal, maupun program bantuan.
Meski berisiko menambah beban fiskal, langkah ini dapat mendorong konsumsi dan investasi sehingga memperkuat basis penerimaan negara di masa depan.
Korelasi keduanya terletak pada trade-off: semakin besar stimulus, potensi defisit kian melebar, namun tanpa stimulus, risiko perlambatan ekonomi bisa lebih dalam. Kuncinya adalah menjaga keseimbangan agar stimulus tetap efektif mendongkrak pertumbuhan tanpa mengganggu keberlanjutan fiskal.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan stimulus dalam bentuk delapan program paket ekonomi “Akselerasi Program 2025” tidak akan memperlebar defisit APBN, meskipun tren penerimaan negara mengalami tekanan.
Purbaya, dalam konferensi pers di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (15/9), menyebut berbagai program bantuan, termasuk bantuan pangan, telah diantisipasi melalui optimalisasi penyerapan anggaran.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Yang paling besar itu bantuan pangan dua bulan kali 10 kilogram beras, sekitar Rp7 triliun, uangnya sudah ada, sudah kami siapkan. Bukan berarti defisitnya melebar, tapi saya bisa perkirakan setiap tahun berapa penyerapan anggaran kita. Tahun lalu kan ada sisa juga,” ujarnya.
Ia menjelaskan alokasi stimulus dilakukan dengan memanfaatkan sisa anggaran yang belum terpakai menjelang akhir tahun, sehingga tidak menambah beban fiskal secara signifikan.
“Daripada sisa tinggal tiga minggu lagi tidak terpakai, saya pakai ke sana. Jadi, ini adalah optimalisasi penyerapan anggaran supaya berdampak pada perekonomian tanpa mengubah defisit yang terlalu signifikan,” katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Purbaya mengatakan, bila pertumbuhan ekonomi melaju lebih cepat dengan rasio pajak (tax ratio) konstan, penerimaan negara akan meningkat otomatis, sehingga dampak stimulus terhadap defisit justru cenderung netral bahkan positif.
Pemerintah menyiapkan total anggaran Rp16,23 triliun untuk delapan program paket ekonomi “Akselerasi Program 2025”. Alokasi terbesar adalah Bantuan Pangan Rp7 triliun untuk 18,3 juta keluarga penerima manfaat berupa 10 kilogram beras selama dua bulan (Oktober–November), dengan opsi perpanjangan hingga Desember bila anggaran memungkinkan.
Program Padat Karya Tunai (Cash for Work) menempati urutan kedua dengan total Rp5,3 triliun, terdiri atas Rp3,5 triliun di Kementerian PUPR dan Rp1,8 triliun di Kementerian Perhubungan, guna membayar upah harian bagi sekitar 609 ribu pekerja pada proyek September–Desember 2025.
Selanjutnya, perluasan PPh 21 Ditanggung Pemerintah (DTP) untuk 552 ribu pekerja sektor pariwisata menganggarkan Rp120 miliar di 2025 dan Rp480 miliar untuk 2026.
Program Magang Lulusan Perguruan Tinggi menyiapkan Rp198 miliar per tahun pada 2025 dan 2026 bagi 20 ribu peserta dengan uang saku setara UMP selama enam bulan.
Program lain meliputi percepatan deregulasi PP28 senilai Rp175 miliar pada 2025 dan Rp1,05 triliun pada 2026, Manfaat Layanan Tambahan Perumahan BPJS Ketenagakerjaan Rp150 miliar untuk selisih bunga, serta subsidi iuran JKK dan JKM Rp36 miliar bagi 731 ribu pekerja informal.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!