Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

KPK Ungkap Kasus Kuota Haji Akibatkan Biaya dan Subsidi Haji Terdampak

📅 Rabu, 10 Sep 2025, 09:36 WIB | Oleh: Tim Penulis
KPK Ungkap Kasus Kuota Haji Akibatkan Biaya dan Subsidi Haji Terdampak Doc: ANTARA
Ket. Pelaksana Tugas Deputi Penindakan dan Eksekusi Komisi Pemberantasan Korupsi, Asep Guntur Rahayu, memberikan keterangan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (9/9/2025).

JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkapkan kasus dugaan korupsi dalam penentuan kuota dan penyelenggaraan ibadah haji pada Kementerian Agama tahun 2023–2024 mengakibatkan biaya perjalanan ibadah haji yang harus dibayar setiap jemaah dan subsidi haji yang dibayarkan pemerintah ikut terdampak.

Pelaksana Tugas Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (9/9) malam, menjelaskan biaya perjalanan ibadah haji (bipih) dan subsidi tersebut terdampak karena pembagian 20.000 kuota haji tambahan dari Pemerintah Arab Saudi pada 1445 Hijriah/2024 Masehi yang seharusnya dibagi 92 persen (haji reguler) berbanding 8 persen (haji khusus), tetapi dibagi menjadi 50 persen berbanding 50 persen.

Asep menjelaskan komponen biaya haji atau biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) terdiri atas bipih dan subsidi pemerintah yang diputuskan dalam rapat DPR RI bersama pemerintah. Misalnya, untuk tahun 1445 Hijriah/2024 Masehi, BPIH rata-rata setiap jemaah sebesar Rp93.410.286. Sementara setiap jemaah membayar 60 persennya atau sekitar Rp56.046.172, sedangkan 40 persen merupakan subsidi pemerintah dari nilai manfaat keuangan haji sebesar Rp37.364.114

"Dari mana tambahan yang 40 persen? Nah, itulah dari uang yang dikumpulkan dari jemaah haji, kemudian dikelola BPKH atau Badan Pengelola Keuangan Haji, kemudian nanti hasilnya atau keuntungan dari pengelolaan itu digunakan lagi untuk kepentingan-kepentingan jemaah haji, termasuk untuk membayar kekurangan BPIH atau subsidi tadi," kata Asep.

Namun, pembagian kuota haji tambahan tahun 1445 Hijriah/2024 Masehi yang kemudian diduga terjadi korupsi dalam penentuan kuota dan penyelenggaraan ibadah haji pada Kementerian Agama tahun 2023-2024, membuat pemerintah kehilangan pengelolaan dana manfaat untuk subsidi BPIH dari 8.400 jemaah reguler.

"Nah, menjadi berkurang uang ini karena yang seharusnya dikelola pemerintah ada 18.400 haji reguler, kemudian hanya menjadi 10.000 haji reguler karena yang 8.400-nya dialihkan menjadi kuota haji khusus," jelasnya.

Terlebih, kata Asep, subsidi biaya haji bergantung pada pengelolaan setoran awal haji per calon jemaah yang sebesar Rp25 juta.

"Kalau di sini kan waktu tunggunya haji yang reguler itu bisa sampai 20 tahun lebih. Jadi, negara memiliki kesempatan untuk mengelola uang haji itu selama hampir 20 tahun sehingga keuntungannya bisa lebih besar," katanya.

Berbeda dengan haji reguler, haji khusus memiliki masa waktu pengelolaan yang lebih sebentar karena masa tunggu keberangkatan tidak mencapai 20 tahun, bahkan ada yang membayar dan berangkat pada tahun yang sama.

"Tidak ada uang yang dikelola karena langsung digunakan. Jadi, hanya masuk, terus keluar lagi untuk digunakan. Nah, di situlah ada kerugiannya," jelasnya.

Ia melanjutkan, "Dengan demikian, negara tidak bisa mengelola uang yang dari para jemaah haji untuk kepentingan jemaah juga. Tadi, untuk menambah kekurangannya yang 40 persen."

Padahal, nilai manfaat keuangan haji juga dapat digunakan untuk perbaikan tata kelola haji di Arab Saudi.

"Mulai dari penginapan, kemudian juga katering, kemudian juga transportasi, dan lain-lainnya. Nah, kalau dikelola sama BPKH untuk yang haji reguler ini, maka nanti keuntungan-keuntungan itu akan digunakan untuk perbaikan di sana," katanya.

Sebelumnya, KPK mengumumkan memulai penyidikan perkara dugaan korupsi dalam penentuan kuota dan penyelenggaraan ibadah haji pada Kementerian Agama tahun 2023–2024, yakni pada 9 Agustus 2025.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Megapolitan
Daftar Lokasi Samsat Kelili...

Pemulihan sawah pascabencana di Aceh

1.5 jam yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pemulihan sawah pascabencan...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.