Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Pacu Jalur Butuh 'Road Map' Agar Tak Jadi Tren Setiap Agustus

📅 Senin, 01 Sep 2025, 17:07 WIB | Oleh:

Bayangkan bila sepanjang tahun terdapat kanal khusus yang mengisahkan perjalanan pembuatan jalur, kisah para tukang kayu di desa, strategi para nakhoda, hingga cerita rakyat di baliknya. Narasi ini akan menciptakan keterikatan emosional. Publik bukan sekadar menonton, tapi ikut larut dalam denyut kebudayaan. Oleh karena itu, perlu kerja sama dengan media dalam jangka panjang yang dapat mengemas semua itu.

Everett Rogers dalam teori difusi inovasi menyebut bahwa ide baru menyebar melalui inovator, early adopter, hingga akhirnya menjadi mainstream. Pacu jalur sebagai tradisi sesungguhnya bukanlah “baru”.

Dalam dunia digital, ia bisa dikemas ulang menjadi inovasi komunikasi, misalnya dengan menggandeng influencer budaya, vlogger pariwisata, atau kreator konten muda untuk menjadi early adopter yang terus menyalakan percakapan tentang pacu jalur. Dengan begitu, ia tak hanya viral saat festival, tapi juga merembes dalam keseharian media digital.

Tantangan: Storytelling

Di masa lalu, keberlanjutan tradisi sangat ditentukan oleh gatekeeper: pemerintah daerah, media cetak, atau penyelenggara festival. Kini, gatekeeping berubah: algoritma media sosial, tren percakapan, dan kualitas storytelling-lah yang menentukan apakah pacu jalur akan terus berada di permukaan atau tenggelam di balik arus informasi.

Itulah sebabnya diperlukan storytelling strategis. Bukan sekadar menayangkan lomba, tetapi menuturkan kisah dengan narasi, bagaimana satu desa rela gotong royong berbulan-bulan untuk memahat jalur dari kayu hutan.

Kemudian, bagaimana tradisi ini menjadi perekat sosial, tempat anak muda belajar disiplin dan kebersamaan. Lanjut dengan desain produksi narasi, bagaimana denyut ekonomi kecil—dari pedagang kuliner hingga pengrajin suvenir, ikut hidup karena pacu jalur.

Kekuatan kisah inilah yang akan memastikan pacu jalur tak sekadar tren musiman.

Apa yang Dibutuhkan?

1. Agenda tahunan yang terintegrasi
Pacu jalur harus dikaitkan dengan kalender pariwisata nasional, bukan hanya agenda lokal. Dengan begitu, ia mendapat tempat dalam agenda setting media sepanjang tahun.

2. Produksi konten berkelanjutan
Pemerintah daerah dan komunitas perlu mendorong produksi konten dokumenter, film pendek, hingga seri edukatif tentang pacu jalur. Bukan hanya lomba, tapi seluruh ekosistem budaya di sekitarnya.

3. Kolaborasi multipihak
Melibatkan akademisi, media, UMKM, influencer, hingga dunia pendidikan untuk terus menjadikan pacu jalur sebagai narasi identitas.

4. Digital branding yang konsisten
Membuat kanal resmi—website, media sosial—yang dikelola profesional agar pacu jalur selalu hadir di ruang digital.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Luar Negeri
Trump Teken Percepatan Tekn...
Megapolitan
Kebudayaan Harus Menjadi Id...
Megapolitan
Puncak HUT Jakarta Dipusatk...
Luar Negeri
Wabah Ebola Kongo Tembus 1....
Rona
Remake 'The Blair Witch Pro...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.