AS Menyetujui Pembebasan Tarif untuk Minyak Sawit, Kakao, dan Karet
📅 Rabu, 27 Agu 2025, 20:30 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: Antara
JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada Selasa (26/8), mengatakan, Amerika Serikat pada prinsipnya setuju untuk membebaskan ekspor kakao, minyak sawit, dan karet Indonesia dari tarif 19 persen yang diberlakukan oleh Presiden Donald Trump sejak 7 Agustus. "Pengecualian itu akan berlaku setelah kedua belah pihak mencapai kesepakatan akhir, tetapi belum ada jadwal yang ditetapkan karena AS sedang sibuk dalam pembicaraan tarif dengan negara lain.""Kedua negara juga membahas potensi investasi AS dalam penyimpanan bahan bakar di Indonesia dalam kemitraan dengan dana kekayaan negara Asia Tenggara Danantara dan perusahaan energi negara Pertamina," kata Airlangga dalam sebuah wawancara.“Kita tunggu responsnya, tapi dalam pertemuan itu, intinya pokoknya (pengecualian) sudah disepakati untuk produk-produk yang tidak diproduksi di AS, seperti kelapa sawit, kakao, dan karet... akan nol atau mendekati nol,” tambahnya.Indonesia adalah pengekspor minyak sawit terbesar di dunia dan pemasok karet utama.Kepastian tarifIndonesia, negara dengan perekonomian terbesar di kawasan ini, merupakan salah satu negara pertama yang mencapai kesepakatan tarif dengan Trump pada bulan Juli, namun Jakarta akhirnya menghadapitingkat yang sama dengan beberapa negara lain, seperti Thailand dan Malaysia, dan sedikit di bawah angka Vietnam sebesar 20 persen.Selama perundingan, Indonesia menawarkan investasi bernilai miliaran dolar di AS dan pembelian minyak mentah, LPG, pesawat, serta produk pertanian Amerika. Indonesia juga menjanjikan tarif nol untuk hampir semua barang AS yang memasuki pasarnya.Airlangga mengatakan, kepastian atas tarif AS dan kemajuan terkini dalam pembicaraan tentang perjanjian perdagangan bebas dengan Uni Eropa dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia, membantu pemerintah mencapai target 5,4 persen untuk tahun 2026, naik dari perkiraan sekitar 5 persen pada tahun 2026.“Mereka membawa persepsi optimis dari pasar global karena sebagian besar investor mencari kepastian dan Indonesia merupakan salah satu negara yang memberikan kepastian global,” ujarnya.Pemerintah ingin menarik investor asing untuk membantu mengembangkan fasilitas industri, terutama dalam pengolahan komoditas utamanya, kata Airlangga, mengulangi keberhasilan negara ini dalam mendatangkan investasi Tiongkok ke proyek nikel.Dia menambahkan, pemerintah juga ingin meningkatkan investasi di bidang pengolahan pasir silika, termasuk produksi panel surya dan wafer untuk semikonduktor.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!