Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Cetak Sawah Baru Ribuan Hektare, Rejang Lebong Berani Lawan Tantangan Ketahanan Pangan Nasional

📅 Minggu, 24 Agu 2025, 22:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Cetak Sawah Baru Ribuan Hektare, Rejang Lebong Berani Lawan Tantangan Ketahanan Pangan Nasional Doc: Antara
Ket. Ilustrasi - Lahan persawahan.

REJANG LEBONG – Pencetakan sawah baru kerap muncul sebagai solusi instan untuk meningkatkan produksi beras nasional dan memperkuat ketahanan pangan.

Namun, jika ditinjau secara analitis, kebijakan ini tidak sesederhana membuka lahan dan mengalirkannya dengan irigasi.

Pencetakan sawah baru memiliki kompleksitas yang menyangkut aspek ekologis, sosial, ekonomi, dan tata kelola.

Dari sisi ekologis, pembukaan lahan sawah baru sering berbenturan dengan isu lingkungan, seperti alih fungsi hutan, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga degradasi lahan gambut yang berpotensi menambah emisi karbon.

Hal ini menimbulkan dilema antara mengejar swasembada pangan dan menjaga keberlanjutan ekosistem.

Secara sosial-ekonomi, pencetakan sawah baru belum tentu berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan petani.

Tanpa dukungan sarana produksi, akses pasar, teknologi pertanian modern, dan kepastian harga gabah, lahan baru berisiko terbengkalai.

Lebih jauh, program ini bisa menciptakan ketimpangan jika distribusi lahan tidak jelas dan cenderung dikuasai oleh kelompok tertentu.

Dari perspektif tata kelola, efektivitas pencetakan sawah baru sangat ditentukan oleh kualitas perencanaan berbasis data.

Banyak proyek sebelumnya gagal karena lokasi tidak sesuai, kualitas tanah rendah, atau infrastruktur pendukung minim.

Oleh karena itu, strategi ke depan sebaiknya tidak hanya berorientasi pada kuantitas lahan, melainkan kualitas produksi.

Integrasi dengan teknologi pertanian presisi, mekanisasi, dan pemanfaatan lahan tidur produktif bisa menjadi alternatif yang lebih berkelanjutan.

Dengan demikian, pencetakan sawah baru bisa menjadi peluang sekaligus jebakan. Jika dilakukan dengan pendekatan parsial, kebijakan ini hanya akan menimbulkan beban lingkungan dan anggaran.

Namun, bila dirancang dengan basis data presisi, perencanaan matang, serta orientasi jangka panjang, pencetakan sawah baru dapat menjadi instrumen penting untuk mengamankan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
PT KAI Tutup 116 Perlintasa...
Ekonomi
Menkeu Ungkap Banyak Rumor ...

Wali Kota Bogor Aktivasi Museum Pajajaran

52 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Megapolitan
Wali Kota Bogor Aktivasi Mu...
Nasional
Mantan Wamenaker Noel Divon...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.