Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Beras Diseragamkan, Masalah Distribusi Tetap Dibiarkan?

📅 Jumat, 22 Agu 2025, 00:00 WIB | Oleh:
Beras Diseragamkan, Masalah Distribusi Tetap Dibiarkan? Doc: antara
Ket. Kebijakan Pangan - Gagasan Beras Satu Harga Tak Atasi Akar Masalah Perberasan

JAKARTA - Gagasan beras satu harga disangsikan mampu menyelesaikan akar persoalan tata kelola pangan dan terkesan menutupi ketidakmampuan negara memperbaiki rantai distribusi. Kebijakan ini justru berpotensi menciptakan ilusi keadilan harga yang rapuh, sementara petani dan konsumen tetap menjadi pihak yang paling dirugikan.

Dalam praktiknya, penyamarataan harga di seluruh daerah seringkali mengabaikan realitas biaya distribusi, logistik, dan perbedaan kondisi geografis. Akibatnya, kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan distorsi pasar sehingga merugikan petani, dan menekan margin pedagang kecil yang beroperasi di wilayah terpencil.

Peneliti Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Eliza Mardian menilai kebijakan beras satu harga masih menyisakan celah kecurangan yang bisa merugikan konsumen. Menurutnya, tanpa diferensiasi mutu, pasar bisa didominasi beras kualitas kualitas rendah karena konsumen tidak bisa membedakan lagi antara medium dan premium.

"Kemungkinan produsen melakukan kecurangan itu tetap ada. Dibuat lah beras yang di bawah standar itu. Jadi potensi perilaku kecurangan itu akan tetap terjadi meski cuma jadi satu standar saja," katanya.

Selain itu, kebijakan beras satu harga justru mencerminkan lemahnya pengawasan dan tata kelola distribusi pangan. Jika pengawasan ketat dan sistem distribusi transparan berjalan efektif, penyalahgunaan bisa dicegah tanpa harus menyeragamkan harga secara nasional.

Seperti diketahui, Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menegaskan beras satu harga bertujuan untuk mengunci harga dari seluruh beras yang disubsidi oleh pemerintah agar tidak disalahgunakan oleh swasta.

“Kami ingin mengunci seluruh beras yang disubsidi negara. Itu harus dikontrol, diintervensi,” ucap Amran dalam Rapat Kerja dengan Komisi IV yang membidangi pertanian di Senayan, Jakarta, Kamis (21/8).

Dia menyampaikan pemerintah sudah melaksanakan rapat koordinasi terbatas terkait dengan beras satu harga sekitar 3–4 kali. Adapun yang menjadi pertimbangan dari pemberlakuan beras satu harga adalah tingginya subsidi pangan yang berada di angka 164,4 triliun rupiah.

Amran tidak ingin subsidi tersebut digunakan oleh pengusaha swasta untuk meraup keuntungan setinggi-tingginya. Apabila pengusaha swasta ingin menuai untung dari penjualan berasnya dengan menetapkan harga yang lebih tinggi, Amran mempersilakan dengan syarat beras tersebut berasal dari lahan sawahnya sendiri, bukan yang disubsidi oleh pemerintah.

“Kalau swasta nanti mau membangun, korporasi-korporasinya mau membangun atau cetak sawah sendiri, kami tidak ikut campur (harga). Tapi tidak boleh menggunakan subsidi pemerintah, baik traktor, benih, dan pupuk,” ucap Amran.

Pertimbangan Matang

Meskipun demikian, Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto meminta kepada Amran untuk tidak terburu-buru dalam menerapkan kebijakan beras satu harga.

Dia memperingatkan kebijakan tersebut akan memengaruhi hajat hidup orang banyak, sehingga harus dilakukan dengan hati-hati dan pertimbangan yang matang.

“Nanti kalau diterapkan (beras) satu harga, tahunya tidak cocok, nanti Presiden harus mencabut (aturan) lagi,” ucap Titiek.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Ekonomi
BNI Private Dinobatkan seba...
Advertisement
11 Event Jakarta September 2026 Wajib Masuk List, Ada Festival Dessert hingga Konser Musik

11 Event Jakarta September 2026 Wajib Masuk List, Ada Festival Dessert hingga Konser Musik

11 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.