Rojali Jadi Warna, Mal Hidup dari Kunjungan, Bukan dari Transaksi Saja
📅 Kamis, 14 Agu 2025, 23:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/nym.
JAKARTA – Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) menyebut fenomena rombongan jarang beli atau yang dikenal dengan istilah Rojali di pusat perbelanjaan bukan sebuah masalah besar.
Menurut Ketua Umum Hippindo Budihardjo Iduansjah, saat ini hal yang paling penting adalah sebuah upaya untuk membangun ketertarikan konsumen ke pusat perbelanjaan.
"Rojali itu nggak apa-apa. Yang penting datang dulu, kita sepakat itu," ujar Budihardjo di Jakarta, Kamis (14/8).
Ia menyampaikan bahwa membuat konsumen untuk mau melakukan transaksi merupakan tugas para peritel, seperti membuat promosi, memberikan diskon, hingga pengalaman menarik lainnya.
Lebih lanjut, Budihardjo mengatakan para pengusaha memahami bahwa saat ini masyarakat lebih selektif dalam berbelanja.
Sebaiknya Anda baca juga:
Oleh karena itu, ia berharap adanya kerja sama atau kolaborasi di seluruh sektor untuk bisa mendorong transaksi di pusat perbelanjaan.
"Minimal minum deh, beli Aqua atau beli Chiki lah ya. Karena situasi, kita tahu saat ini sangat susah mendatangkan orang (ke pusat perbelanjaan) setelah covid," katanya.
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso, di Jakarta, Kamis (7/8), menyampaikan omnichannel atau penjualan yang mengintegrasikan antara luring dan daring merupakan salah satu solusi untuk mengatasi fenomena rombongan jarang beli atau yang dikenal dengan Rojali.
Sebaiknya Anda baca juga:
Budi menjelaskan, konsumen memiliki hak untuk memilih berbelanja di toko fisik atau melalui niaga elektronik (e-commerce). Menurutnya, apa yang dilakukan oleh Rojali merupakan hal yang wajar.
Dengan perkembangan digital, toko fisik diharapkan juga mampu memiliki toko daring. Menurutnya, kebanyakan masyarakat melihat produk secara langsung di toko, dan melakukan pembelian melalui niaga elektronik.
Fenomena ‘Rombongan Jarang Beli’ (Rojali) dan ‘Rombongan Hanya Nanya’ (Rohana) tengah menjadi “penyakit” baru di dunia perdagangan karena menggerus potensi transaksi dan menguji daya tahan pelaku usaha.
Menyadari dampaknya yang kian meluas, Kementerian Perdagangan (Kemendag) menggandeng berbagai asosiasi untuk merumuskan langkah konkret, bukan sekadar wacana. Diskusi yang digelar bukan hanya membedah perilaku konsumen di era digital, tetapi juga memetakan strategi agar tren ini tidak berubah menjadi “budaya” yang mematikan roda bisnis.
Kemendag menegaskan, jika Rojali dan Rohana dibiarkan, efek domino yang muncul tidak hanya pada omzet pedagang, tetapi juga pada rantai pasok, tenaga kerja, hingga iklim investasi.
Dari pelaku UMKM sampai ritel besar, semua berpotensi terjebak dalam siklus pengeluaran energi tanpa hasil.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!