Normalkan Penglihatan Akibat Mata Tua dengan Prosedur RLE
📅 Minggu, 10 Agu 2025, 21:52 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: JEC
JAKARTA – Sekitar 86,3 juta populasi Indonesia berusia 45 tahun ke atas terancam presbiopia atau mata tua. Istilah ini untuk menyebut terjadinya penurunan kemampuan akomodasi lensa mata yang menyebabkan kesulitan melihat benda dekat.
Dr. Nashrul Ihsan, Sp.M(K), Dokter Subspesialis Katarak, Lensa dan Bedah Refraktif JEC Eye Hospitals and Clinics sekaligus Kepala Klinik Utama Mata JEC @ Bekasi mengatakan, Prevalensi presbiopia secara global terus meningkat seiring bertambahnya harapan hidup dan intensitas tuntutan penglihatan dekat di era modern, seperti penggunaan ponsel.
“Padahal kalangan 45 tahun ke atas biasanya mulai menjalani usia emas lantaran berada di puncak periode produktif, atau sedang menikmati masa senior bersama keluarga. Lebih dari sekadar membatasi aktivitas keseharian, presbiopia bisa berdampak secara psikologis, bahkan ekonomi,” ujar dia melalui keterangan tertulis pada hari Kamis (7/8).
Prevalensi presbiopia pada usia 45 tahun ke atas mencapai 83 persen. Diperkirakan pada tahun 2030 mendatang, sekitar 2,1 miliar orang. Sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa pasien presbiopia, baik di negara berpenghasilan tinggi maupun rendah, mengalami penurunan kualitas hidup.
Presbiopia yang tidak terkoreksi mengakibatkan penderita dua kali lebih sulit melakukan tugas-tugas yang membutuhkan penglihatan jarak dekat. Kesulitan ini meningkat hingga delapan kali lipat untuk tugas penglihatan jarak dekat yang sangat intens.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Lebih-lebih, 12 persen pasien presbiopia memerlukan bantuan dalam menjalankan tugas rutin, yang pada akhirnya dapat memicu tekanan mental dan penurunan harga diri,” katanya.
Presbiopia memiliki gejala khas yang mudah dikenali dalam keseharian, antara lain kesulitan melihat objek atau tulisan pada jarak dekat. Secara naluriah, penderitanya akan menjauhkan objek tersebut agar dapat terlihat/terbaca dengan lebih jelas.
Kondisi ini sering disertai dengan gejala sekunder berupa kelelahan mata, sakit kepala setelah membaca atau melakukan pekerjaan detail dengan fokus pandangan jarak dekat (seperti memasukkan benang ke jarum atau membaca label barang berhuruf kecil).
Sebaiknya Anda baca juga:
Presbiopia juga membuat penderita membutuhkan pencahayaan yang lebih terang saat membaca. Gejala-gejala ini umumnya mulai muncul secara bertahap pada usia 40-an dan menjadi semakin nyata setelah usia 45 tahun, sejalan dengan proses penurunan kemampuan akomodasi lensa mata yang merupakan bagian alami dari proses penuaan.
Dari sisi dampak ekonomi, studi yang mengkaji beban global hilangnya produktivitas akibat presbiopia yang tidak dikoreksi menemukan, di antara individu berusia 50 tahun ke bawah, terdapat potensi hilangnya produktivitas terkait sebesar 11 miliar dollar AS. Pada mereka yang berusia 65 tahun ke bawah yang merupakan presbiopia yang tidak diobati, potensi hilangnya produktivitas diperkirakan sebesar USD 25,4 miliar jika semuanya diasumsikan produktif.
“Imbas presbiopia melibatkan komponen psikologis karena penyandangnya menganggap opsi kacamata bifokal sangatlah tidak menarik, dan seolah menandai penuaan. Sementara, rata-rata penderita presbiopia masih menjalani gaya hidup aktif sehingga penggunaan kacamata dapat menghalangi performa dalam beraktivitas. RLE menjadi prosedur ideal bagi mereka yang tidak nyaman mengenakan kacamata dan menginginkan solusi jangka panjang,” papar Nashrul.
Teknologi RLE
Untuk mengatasi mata tua penggunaan kacamata dianggap sebagai solusi lazim bagi para penyandangnya. Namun sayangnya berpotensi menghambat aktivitas, bahkan menurunkan kualitas hidup.
Mendobrak pandangan umum tersebut, JEC Eye Hospitals and Clinics memperkenalkan prosedur Refractive Lens Exchange (RLE) berupa penggantian lensa mata yang bertujuan mengurangi kebutuhan kacamata/lensa kontak.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!