Bunyi “Duk Duk” di Rel Kereta Ternyata Itu Disengaja dan Sangat Penting
📅 Kamis, 07 Agu 2025, 14:35 WIB | Oleh: Henri pelupessy
Doc: koran jakarta/dok
JAKARTA – Bagi penumpang kereta api, suara atau bunyi “duk duk” yang terdengar saat melintasi rel mungkin sudah tidak asing lagi.
Suara ini muncul setiap kali roda kereta melintas di atas sambungan antar batang rel. Namun, tahukah Anda bahwa celah di antara sambungan rel itu bukanlah cacat konstruksi, melainkan bagian dari desain teknis yang sangat penting?
PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 1 Jakarta menjelaskan bahwa keberadaan celah pada sambungan rel berfungsi untuk menjaga kestabilan dan keselamatan jalur rel, khususnya dalam menghadapi perubahan suhu.
Menurut Manager Humas KAI Daop 1 Jakarta, Ixfan Hendriwintoko, celah antar sambungan rel adalah bagian dari rekayasa termal yang sudah diperhitungkan secara matang.
Celah tersebut dibutuhkan untuk mengantisipasi pemuaian dan penyusutan rel akibat fluktuasi suhu, terutama saat terkena panas matahari secara langsung.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Rel terbuat dari baja, yang secara alami akan memuai saat panas dan menyusut saat dingin. Tanpa celah, pemuaian ini bisa menyebabkan rel melengkung, atau bahkan retak karena tekanan yang terlalu besar,” ujar Ixfan, kemarin.
Fenomena ini dikenal dalam fisika sebagai thermal expansion atau pemuaian termal. Di siang hari, suhu permukaan rel bisa meningkat drastis, yang akan memicu pemuaian panjang rel.
Jika tidak ada ruang ekspansi yang cukup, risiko seperti track buckling, pelengkungan rel yang membahayakan bisa terjadi dan membahayakan perjalanan kereta api.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Celah ini menjadi solusi untuk menyerap tekanan dari pemuaian tersebut, sehingga beban tidak terkonsentrasi di satu titik sambungan,” jelasnya.
Untuk menyambungkan rel yang memiliki celah ini, KAI menggunakan perangkat tambahan berupa rail joint bars (plat sambungan) dan fish bolts (baut khusus).
Sistem ini tak hanya menjaga fleksibilitas rel terhadap perubahan suhu, tapi juga mempermudah perawatan serta penggantian rel ketika dibutuhkan.
Meski demikian, di jalur strategis dengan lalu lintas tinggi, KAI mulai banyak menggunakan jenis rel modern yakni Continuous Welded Rail (CWR), yaitu rel panjang tanpa celah sambungan konvensional.
Pada rel jenis ini, manajemen ekspansi termal dilakukan dengan metode yang lebih kompleks, seperti penggunaan rail anchor dan sistem ballast retention untuk menjaga kestabilan struktur rel.
“Kami ingin masyarakat memahami bahwa suara sambungan rel dan celah antar batang rel adalah bagian dari sistem keselamatan yang telah memenuhi standar internasional,” katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!